Berjalan menuju ruang tunggu, rombongan gubernur disambut gong wani. Spontan para penari menghentakkan kaki. Menggerakkan tangan menari hegong. Tarian khas Sikka.
Kunjungan Gubernur VBL ke Flores bagian timur ini adalah lanjutan rangkaian kunjungannya ke seluruh kabupaten di NTT. Sebelumnya Gubernur VBL sudah mengunjungi seluruh daratan Timor, daratan Sumba, dan Flores bagian barat yakni Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo dan Ende.
Kunjungan sepekan kali ini dimulai dari Sikka, seterusnya ke Flores Timur, Lembata dan berakhir di Alor.
Di Sikka, dari Bandara Frans Seda, Gubernur VBL langsung menuju perusahaan pengolahan ikan, PT KCBS (Karya Cipta Buana Sentosa) di Wailiti, Kecamatan Alok Barat. Ini perusahaan asing. Milik Jepang. Meski milik asing, hampir 90 persen karyawan orang NTT. Manejernya bahkan orang Indonesia juga.

Dari PT KCBS, Gubernur VBL menyambangi kebun contoh yang digarap Yan Maring. Gubernur ingin menyaksikan kebun ini karena ada yang hebat dan luar biasa. Yakni penerapan teknologi penyiraman sistem tetes jarak jauh menggunakan SMS (short message service).
Selain melihat teknologi ini, Gubernur VBL juga ingin menjumpai dan mendengar langsung dari Yan Maring. Yan Maring ini anak muda yang ‘keluar’ dari pakem, gaya dan pola hidup anak muda zaman now. Dia meretas jalan berbeda. Jalan petani. Menjadi seorang petani. Tapi petani yang profesional. Ilmu teknologi pertanian di bangku kuliah, plus magang beberapa bulan tentang pertanian di Israel adalah bekal dan modal mahal miliknya.







