Oleh Tony Kleden
Marthen Dira Tome. Lengkapnya Ir. Marthen Luther Dira Tome. Siapa tidak kenal nama ini? Dia jebolan Fakultas Peternakan (Fapet) Undana. Jelas, urusan dan dunia peternakan dia kuasai baik. Dari berat badan sapi hingga pakan ternak yang minim.
Namun nama ini melegenda bukan karena ihwal dunia peternakan. Yang membuat namanya melambung adalah garam. Ya, garam. Bumbu masakan yang tak tergantikan itu.
Tahun 2013 saat menjabat Bupati Sabu Raijua, Marthen membawa teknologi geomembran ke Sabu. Ini teknologi mengubah air laut menjadi garam di areal tambak. Dialah orang pertama di NTT yang membawa dan memperkenalkan cara baru produksi garam ini ke NTT.
Sebelum geomembran diperkenalkan Marthen, orang Sabu menggunakan cara tradisional memenuhi kebutuhan garam. Sebegitu lama orang Sabu menggunakan cangkang siput jenis tridacna crocea ukuran besar sebagai wadah menampung air laut yang kemudian diletakkan di pekarangan rumah. Cangkang siput jenis ini biasa dipakai sebagai tempat makanan babi di sejumlah daerah di NTT.
Satu rumah bisa dikelilingi ratusan cangkang siput ini. Setiap kali air laut dalam cangkang siput itu kering dan membentuk kristal-kristal garam, mereka kembali ke laut mengambil lagi air laut mengisi kembali di cangkang siput. Begitu seterusnya hingga kristal-kristal garam di cangkang mulai banyak dan siap dipanen.
Anda bayangkan, berapa waktu yang dibutuhkan untuk memanen garam satu atau dua kilogram dari cangkang-cangkang di sekeliling rumah itu? Maka ketika Marthen membawa teknologi geomembran masuk Sabu, orang Sabu mengalami loncatan teknologi luar biasa. Mereka terheran-heran dengan teknologi baru itu.







