Dua perusahaan itu baru menggarap 70-an hektar. Di atas tambak seluas itu, kata Marthen, dua perusahaan itu memanen 315 ton/hektar selama 7 bulan. Dengan demikian, selama satu musim kering/kemarau, dua perusahaan itu memanen 22.050 ton garam. Sebagian kecil garam kedua perusahaan itu dibeli Koperasi Produsen Raja Laut untuk diolah menjadi garam konsumsi (dapur).
“Tiap hari koperasi produksi garam untuk konsumsi dapur sebanyak tiga ton. Dulu mereknya Otak Brilian, sekarang merek otak,” sebut Marthen. Garam dengan merek dagang Nataga Cap Otak itu disebar ke seluruh Sabu, Sumba, dan Timor.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini sedang melakukan pemetaan untuk menggarap 1.000 hektar tambak garam di Sabu. Marthen membayangkan berapa banyak tenaga kerja yang bakal terserap jika pemerintah pusat benar-benar menggelontorkan dana Rp 4,2 triliun untuk usaha garam di Sabu.
“Satu hektar tambak itu butuh 10 tenaga kerja kerja. Kalau seribu hektar dari KKP itu sudah serap 10 ribu orang. Itu baru yang kerja di tambak, belum lagi yang pikul garam ke kapal. Mata rantainya banyak. Sopir truk pengangkut, pemondokan untuk tenaga kerja, warung makan, transportasi. NTT bakal maju hanya dengan garam,” tandas Marthen optimis.
Sebagai perintis, dan sekarang pelaku usaha garam, Marthen menyambut gembira renacana dan tekad pemerintah menjadikan NTT sentra garam nasional. “Saya siap berkolaborasi. Jika dikelola dengan baik dan secara profesional, NTT bakal berkibar dari sektor garam. Apalagi Pak Gubernur juga kampanyekan NTT beli NTT,” tegasnya mantap. (*)







