
Saya ingat tahun 2014 bersama Marthen melihat tambak garam beberapa hektar yang dijadikan model geomembran di Sabu. “Mereka (warga Sabu) kaget dan tidak percaya ketika saya ajak mereka bawa karung dan sekop panen garam. Mereka tidak percaya karena belum pernah lihat yang seperti itu,” kata Marthen ketika itu.
Dengan kehadiran teknologi geomembran itulah, Sabu jadi identik dengan garam sampai hari ini. Ketika kami ngobrol lagi di My Kopi O Kupang, Kamis (27/3/2025) rembang malam, Marthen antusias bicara garam. Pria kelahiran Sabu, 21 Juli 1964 ini jadi semangat bicara garam karena dia suhu-nya untuk garam Sabu. Dia perintis geomembran. Dia juga petani garam. Dan, terpenting dia punya tekad menjadikan Sabu dan NTT sentra garam nasional.
Marthen mengatakan, sejak panen perdana garam sistem geomembran itu dia meyakini cuaca NTT yang panas ekstrim merupakan anugerah luar biasa dari Pencipta. “Kita tidak boleh lagi lihat cuaca NTT yang panas ekstrim seperti ini sebagai kekurangan. Jangan! Panas 7 sampai 8 bulan dalam setahun itu anugerah bagi kita di NTT untuk usaha garam,” kata Marthen yang dilantik menjadi Bupati Sabu Raijua, 24 Januari 2011.
Ketika masih menjabat sebagai Bupati Sabu Raijua, dari beberapa hektar lahan contoh dan model, Marthen bersama masyarakat setempat mengolah dan mengelola tambak garam dengan luasan yang semakin bertambah. Pelan tapi pasti lahan tambak garam ditambah. Ketika itu, garam dapur dengan merek dagang nataga ‘otak brilian’ dalam kemasan tembus pasar lokal.







