Sayang, usaha ini tidak berlanjut setelah Marthen tidak lagi menjabat dan tersandung kasus hukum. “Macet, pemerintah tidak lanjut lagi,” kata Marthen.

Ketika pemerintah pusat menutup kran impor garam, Marthen menyebutnya sebagai berkat bagi Indonesia, juga NTT. “Kebutuhan garam kita di Indonesia besar sekali, setahun 2 juta lebih ton. Yang kita impor sekitar 1,8 juta ton. Nah, ini peluang besar bagi kita untuk menjawabi sebagian kebutuhan dalam negeri,” kata Marthen.
Dia sangat semangat jika NTT jadi sentra garam nasional. Bagi dia, NTT punya potensi garam yang luar biasa, tidak hanya di Sabu, tetapi juga di seluruh NTT. Marthen mengaku sudah kelilingi seluruh NTT dan melihat langsung bagaimana kondisi perairan NTT yang bisa dikembangkan untuk usaha garam. “Buntal di Manggarai utara, Nagekeo, Adonara Barat potensinya besar sekali,” tegasnya.
“Betul kata Kepala Bappenas. Pengembangan industri garam menjadi industri yang paling bisa dilakukan di NTT. NTT mesti jadi pusat industri garam nasional,” kata Marthen mengulang pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy, ketika berdiskusi dengan Gubernur NTT, Melki Laka Lena, dan para kepala daerah se-NTT di Jakarta, Senin (17/3/2025), lalu.
Potensi garam di Sabu, sebut Marthen, masih sangat besar. Dia menyebut Sabu mempunyai 4.000 hektar untuk tambak garam. Sementara yang baru dikelola sekarang masih sangat kecil oleh dua perusahaan yakni PT. Nataga Raihawu Industri (PT NRI) dan PT. Blue Ocean Salt (PT BOS).







