
Tidak salah. Bapak mantu saya, Piet Boekan (alm), ketika menjadi Kepala Departemen Penerangan (Deppen) Sikka (1976-1982) jadi orangtua para frater asal Manggarai, terutama Manggarai Timur.
Tak ayal hampir setiap hari Minggu, para frater ramai-ramai ke rumah orangtua di Maumere. Frater Henri yang piawai menggubah lagu, tampil beda. Dia ajar si kembar Vera dan Veri Boekan di rumah lagu “Tanjung Perak di Tepi Laut”. Sambil berdiri menghadap Frater Henri, keduanya yang masih bocah menyanyi lagu andalan itu. Lagu itu masih diingat dengan baik hingga sekarang.
Ketika Pater Henri mengikrarkan kaul kekal di Ledalero, orangtua mantu ikut hadir mendampingi. Bahkan bapak mantu membawakan sambutan mewakili orangtua frater yang berkaul kekal.
Sampai sekarang kami merasakan benar eratnya kekeluargaan antara keluarga istri saya dengan keluarga Pater Henri. Suster Maria Yohana, SSpS (Provinsial SSpS Flores Bagian Barat), saudari Pater Henri kalau ke Kupang pasti mengontak dan bertemu. Ada-ada saja yang dibawa untuk kami. Kopi, kompiang, beras merah. Bahkan sayur segar pun dibawa Suster Yohana.
Kalau ke Kupang, Pater Henri pasti mampir mengunjungi orangtua di rumah.
Semalam ketika berita meninggalnya Pater Henri beredar di grup keluarga, semua jadi sedih. Terharu. Larut dalam duka. Masing-masing anak (ipar saya) memberi catatan kenang-kenangan tentang Pater Henri.
Si Vera datang ke rumah. “Ingat terakhir Pater datang kunjung ke rumah ini sekitar 10 tahun lalu, sempat kasih amplop di oma. Kami buka ada uang Rp 1.750.000. Oma bilang uang ini tidak boleh kita pake makan, kita pake belanja barang saja supaya ada kenangan dari Pater dan selalu ingat Pater. Akhirnya oma putuskan beli kursi sofa merah yang sekarang ada di ruang SDM (ruang khusus tempat orangtua menasehati dan berbagi kisah dengan semua anak). Ini sofa kenang-kenangan dari Pater,” kata Vera, yang sekarang sebagai Kasubag Keuangan di Kantor Pengadilan Tinggi NTT.
Veri yang sekarang jadi Kepala BPJS Ketenagakerjaan di Kabupaten Mimika, Papua, mengirim di grup keluarga komunikasi terakhir dia dengan Pater Henri sekitar 6 bulan lalu via media sosial facebook.
Veri mengaku menyimpan dengan baik kenangan indah semasa kecil di Maumere bersama Pater Henri.
“Selalu ingat lagu itu (lagu Tanjung Perak di Tepi Laut). Majalah Kunang-Kunang menemani dari SD sampai SMA di Kupang,” kata Veri.
Tiga tahun lalu, tepatnya 12 Juli 2018, Pater Henri merayakan pesta pancawindu imamatnya di Ruteng. Suster Yohana mengirim undangan ke Kupang. Semua gembira. Atur rencana mau ke Ruteng. Sekalian pulang lihat tanah asal. Saya dan istri sepakat menghadiri acara itu.
Tak dinyana si sulung, Vincentius Jeskial Boekan, meninggal dunia 15 Mei 2018. Belum sampai sebulan, Mama Mantu menyusul si sulung, 13 Juni 2018. Kembali ke Rumah Bapa. Duka beruntun. Rencana ke Ruteng batal.
Hari ini jasad Pater Henri Daros dikebumikan. Pastor seniman itu telah mati berkalang tanah. Rohnya kembali ke sang pengasal, ke tempat dari mana tak seorang pun tahu. Nusa Tenggara Timur, Flores khususnya, kehilangan seorang seniman. Tarekat Societas Verbi Divini (SVD) kehilangan seorang anggotanya yang 17 tahun menjadi dosen di Universitas Nanzan, Nagoya, Jepang.
Untuk mengenang penggagas dan pengawal Pojok Bung Karno di Ende itu, saya mengutip sajak karya Sapardi Djoko Damono berjudul ‘Pada Suatu Hari Nanti’ berikut ini:
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
Selamat jalan Pater Henri Daros, SVD. Requiem aeternam, dona ei, Domine!* (tony kleden)







