Salah? Tidak bisa disalahkan. Ketika kran kebebasan berekspresi dibuka, warga bangsa ini dengan begitu leluasa menyampaikan kritik, gagasan, pikirannya secara lebih bebas. Ini baik adanya.
Ketika perangkat teknologi informasi berevolusi dengan lompatan perubahan yang tidak terbayangkan sebelumnya, semua orang seperti menemukan momentum untuk mengatakan apa saja seturut kehendak hatinya.
Begitu juga di panggung politik. Siapa bisa mengatakan apa saja, di mana saja, dan kapan saja. Dominasi isu miring dan minor membuat kita tidak baku enak. Jadi tegang. Berapriori terhadap yang lain.
Fenomena ini yang disadari betul oleh Melki-Johni. Dalam benak keduanya, janganlah persaudaraan kita, kekerabatan kita ternoda oleh politik. Kontestasi Pilgub NTT, juga Pilkada di NTT harus dimaknai sebagai pesta demokrasi, bukan resespi demokrasi.
Maka, tepatlah ketika Melki Laka Lena mengajak seluruh warga NTT memberi warna riang gembira untuk Pilgub NTT. “Kami ingin agar kontestasi pilgub ini kita selenggarakan dengan riang gembira. Semua yang berkompetisi ini semua sahabat, semua saudara, semua pintar-pintar, cerdas-cerdas, punya pengalaman di berbagai sektor,” kata Melki.

Melki mengakui pada kontestasi pilgub ini begitu banyak isu minor, terutama di media sosial yang berseliweran di ruang publik tanpa kendali. Melki mengaku bersama Johni Asadoma selalu mendapat berbagai macam isu minor dn tidak penting di media sosial.







