“Saya masih harus menunggu giliran. Mesin perontok masih melayani perontokan sorgum sejumlah petani lain yang datang lebih awal. Juga kebetulan operatornya sedang makan siang,” lanjut Ancis.
Tentang usaha jasa mesin perontok yang belum ada di Duli Pali, dimaklumi karena petani berkebun sorgum di desa itu masih sangat terbatas. Ancis Witin menjadi petani langka berkebun sorgum di Duli Pali.
Dia mengakui, perontokan bisa saja dilakukan secara manual seperti zaman dulu. Namun kalau secara manual, butuh waktu lama, apalagi dalam jumlah banyak. Upah bagi para perontoknya pun mahal, sekitar dua kali lipat ketimbang melalui jasa mesin perontok.
Ancis sendiri belum tercatat sebagai anggota Koperasi Likotuden. Karena itu ia harus siap membayar jasa perontokan Rp 150.000 per jam. “Kalau sudah berstatus anggota koperasi, tarif jasa perontokan lebih murah, Rp 100.000 per jam,” jelas Ancis.
Kepulauan di NTT yang curah hujannya sangat terbatas sebenarnya sangat cocok untuk budidaya sorgum. Apalagi sorgum sebenarnya untuk jangka waktu sangat lama pernah menjadi bahan pangan utama masyarakat NTT. Namun kehadiran bahan pangan lokal itu tergusur menyusul program swasembada beras tahun 1990-an. Dampak yang segera melekat, gengsi beras sorgum merosot hingga tersingkir dari rumah rumah keluarga karena jika tetap dipertahankan melekat dengan image miskin.
Kandungan sorgum mirip gandum. Sejauh ini kebutuhan gandum Indonesia (untuk mie instan, roti, biskuit, cookies dan lainnya), terus melonjak dan hampir total andalkan dari pasokan impor. Tahun lalu misalnya, Indonesia mengimpor 8,4 juta ton gandum (senilai 2,6 miliar dollar AS). Dari jumlah itu sebanyak 2,07 juta ton (23 %) di antaranya diimpor dari Ukraina. Pasokan itu tentu saja jadi terganggu akibat invasi Rusia atas Ukraina, yang perangnya masih berlangsung hingga sekarang.







