Sorgum Jadi Keunggulan Kampung Gersang Likotuden

sorgum3
Plang nama Kampung Likotuden

Petani Likotuden sangat terbantu terutama menyusul kehadiran Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Larantuka (Yaspensel) atas prakarsa Maria Loretha.   Yayasan yang juga dipimpin Maria Loretha tak hanya gencar mendorong pengembangan sorgum. Yaspensel juga berupaya menyediakan bibit/benih, pendampingan, kegiatan paskapanen hingga pengolahan dan pemasaran hasil sorgum.

Kini, para petani sorgum di Likotuden telah membentuk sebuah koperasi (Koperasi Likotuden) yang beranggotakan 45 petani sorgum. “Semua hasil panen dibeli oleh koperasi kemudian ditampung di gudang Yaspensel di jalan masuk kampung Likotuden. Harga beli dari koperasi sekitar Rp 9.000 per kg. Selanjutnya Yaspensel yang menjual keluar,” ujar Erdo Kaseh.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ketua Koperasi (Sorgum) Likotuden, Lambertus Belang Werang, mengatakan sebelum ada koperasi, para petani tergabung dalam kube atau kelompok usaha bersama petani sorgum pada tahun 2015.

Sorgum di kampung itu pertama kali dikenalkan oleh Maria Loretha. Ketika itu kebetulan panenan jagung dan padi dari kebun ladang gagal. Ibu Maria Loretha datang membawa benih sorgum. Lalu sejumlah petani coba menanamnya secara tumpang sari bersama benih jagung dan padi.

“Dalam perjalanana padi dan jagung mati tetapi sorgum hidup. Mulai saat itu kami bentuk kube dan sekarang jadi koperasi sejak 2021 dengan anggota 45 orang,” sebut Lambertus.

Ia mengakui, tanaman sorgum sangat membantu masyarakat dari sisi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pangan. “Kalau tanpa sogum, wilayah kami ini terus terjadi rawan pangan karena jagung dan padi untung untungan bisa tumbuh,” katanya.

Pos terkait