Ia juga menyebut, pengembangan sorgum sangat mudah karena sekali tanam dipanen selama tiga kali. “Pada awal tahun ini di saat hujan banyak kita tanam. Tiga bulan berikut panen sekaligus pangkas. Begitu seterusnya hingga tiga kali panen dalam setahun.
Lambertus juga sangat memahami keluhan para nggota kelompok koperasi yang masih kekurangan alat perontok, pencacah dan penggiling sorgum. “Kami ada mesin perontok tapi selalu macet dan itu ukuran mini. Kita butuh mesin yang besar yang bisa hasilkan olahan lebih banyak dan cepat. Kami juga butuh mesin penepung, pengosoh dan pengayah untuk membesihkan sorgum dari kulitnya. Sebelum ada mesin kita manual saja pakai tumbuk,” katanya.
Esy Kung, salah seorang petani sorgum Likotuden mengatakan, sorgum yang ditanam oleh semua masyarakat hanya mengandalkan humus tanah. Tidak pernah menggunakan pupuk kimia. “Kami bersyukur ada sorgum untuk membantu perekonomian kami. Saya tanam lalu jual sendiri. Saya belum masuk koperasi. Saya jual bebas saja, ada yang datang beli langsung. Saya buat dalam bentuk tepung, harganya Rp 25.000 per kg,” katanya.
Ibu Rumah Tangga yang juga berjualan di depan SMK ANCOS ini mengaku punya lahan sorgum sekitar 1 hektar. “Hasil dalam 1 hektar sekitar 1,5 ton. Tahun ini saya tanam setengah hektar saja, sisanya saya buat tanam padi. Sekarang saya punya sorgum sudah panen, tiggal rontok dan dibuat jadi tepung untuk dijual,” sebut Mama Esy Kung.
Tak berlebihan untuk mencatat bahwa budidaya sorgum kini sudah menjadi keunggulan kampung gersang Likotuden dan sekitarnya. (*)







