Diakuinya, setelah panen perdana itu langsung didatangi banyak pembeli. Bahkan ada juga dari Kupang yang mau membeli 15 ton sekaligus. Namun khusus calon pembeli terakhir ini untuk sementara terpaksa ditolak karena stok yang tersedia masih jauh dari cukup.
Selain untuk kebutuhan makan bersama keluarga di rumah, sebagian sorgum dari kebun Ancis dipasarkan. Jika sudah berupa beras sorgum, harganya Rp 11.000 per kilogram (kg). Selanjutnya kalau sudah diolah dalam bentuk bubuk, harganya Rp 25.000 per kg.
Menjajikan
Erdo Kaseh (35) asal Amarasi, Kabupaten Kupang, sejak tahun 2014 menanam sorgum di Likotuden (Flotim). Erdo yang adalah satu dari 45 anggota Koperasi Likotuden, mengaku berkebun sorgum sangat menjadjikan. Penghasilan dari menanam sorgum sangat membantu perekonomian keluarga. Bahkan, pria yang mempersunting gadis Likotuden itu kini memiliki sebuah rumah tembok dari hasil menjual sorgum.
Keberhasilan para petani sorgum di Likotuden pernah membawa mantan Gubernur NTT (Alm). Frans Lebu Raya melakukan panen perdana sorgum di kampung itu tahun 2015 silam.
Meski begitu, masih ada kendala serius yang dihadapi petani Likotuden dan sekitarnya. Di antaranya keterbatasan peralatan atau mesin pengolahan hasil sorgum, seperti mesin perontok, mesin penggiling biji jadi beras sorgum dan mesin penepung.
Sebagai contoh mesin perontok hanya satu unit milik Koperasi Likotuden. Pada saat musim panen, praktis terjadi antrean panjang untuk perontokan. Erdo Kaseh mengharapkan dukungan pemerintah membantu tambahan mesin perontok dan mesin pengolahan hasil sorgum.







