Sebagai bentuk penghormatan, pada kesempatan tersebut Bupati Rote Ndao menganugerahkan gelar adat “Mane Mana Lopolinu Ume’lo”, yang bermakna Pangeran Pelindung Rumah Tangga kepada Menteri Wihaji.
Sebelumnya Menteri Wihaji menyatakan, kunjungannya ke Rote Ndao merupakan balasan atas kunjungan Gubernur NTT dan kepala daerah se-NTT ke Jakarta pada Maret 2025 lalu. Ia menekankan pentingnya kolaborasi multipihak (pentahelix) dalam menangani persoalan stunting.
“Kita ingin menjadikan NTT sebagai provinsi percontohan percepatan penurunan stunting dan penghapusan kemiskinan ekstrem di Indonesia,” tandasnya.
Kegiatan diakhiri dengan Pelepasan Kirab Bangga Kencana dan Kick Off Kolaborasi Multipihak dalam penanggulangan stunting dan kemiskinan ekstrem.
Berbagai bantuan turut diserahkan sebagai bagian dari upaya penurunan stunting, antara lain:
* Bantuan nutrisi untuk keluarga risiko stunting Program GENTING dari BAZNAS,
* Bantuan Jamban Sehat Program GENTING dari IPeKB Rote Ndao,
* Bantuan akses air bersih dari Bank Mandiri,
* Pengadaan Air Bersih dari BAZNAS,
* Program Sehat Bertumbuh dari BAZNAS,
* Dukungan program GENTING (Gerakan Penurunan Stunting Terintegrasi) dari Bank Mandiri.
Turut hadir dalam kegiatan ini, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Ayu Isana Bagoes Oka, Bupati TTS, Sumba Barat Daya, dan Manggarai Timur (secara daring), Deputi Bidang KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN RI, jajaran pimpinan Kemendukbangga/BKKBN RI, perwakilan perguruan tinggi, perwakilan Bank Mandiri, serta Keluarga Risiko Stunting (KRS) dari Kabupaten Rote Ndao. (biro ap setda ntt/fara therik/dio ceunfin)







