Di dalamnya tersimpan kedua loh batu, yang memuat kesepuluh perintah Allah untuk ditaati dan dijalankan (bdk. Kel. 20:2-17 dan Ul. 5:6-21). Kemudian Raja Daud membangun Bait Allah dan di dalam Bait Allah tersebut, ditempatkannya kedua loh batu itu. Di Bait Allah itulah, Allah hadir untuk disembah dan dimuliakan. Oleh sebab itu, Bait Allah menjadi tempat kudus bukan menjadi pasar atau tempat berjualan.
Dapat dimengerti bahwa Yesus menjadi begitu marah karena orang-orang Yahudi tidak menghormati Bait Allah. Apa sebab? Apakah karena pencemaran Bait Allah atau karena kemunafikan orang-orang Yahudi? Sudah pasti sebab kemarahan Yesus adalah kedua-duanya. Oleh tindakan berjualan, mereka menajiskan kekudusan Bait Allah. Dan oleh kemunafikan orang-orang Yahudi, mereka menjadikan Bait Allah yang adalah tempat perjumpaan Allah dan umat-Nya menjadi pasar. Peran Bait Allah yang sesungguhnya dialihkan kepada sesuatu yang lain.
Pada hari raya, orang Yahudi berziarah ke Yerusalem untuk menghormati Allah dalam Bait-Nya yang kudus itu. Banyak orang Yahudi yang datang ke situ tetapi bukan dengan maksud yang murni. Mereka datang untuk mencari keuntungan dengan menjual hewan kurban. Mereka datang bukan untuk beribadah tetapi untuk berjualan. Mereka datang bukan untuk bertemu Tuhan melainkan berjumpa dengan pembeli dan penukar uang. Di sini letak kemunafikan orang Yahudi itu.
Yesus selalu tegas menantang sikap pura-pura dan kemunafikan, menentang sikap ibadah yang tidak keluar dari hati. Kecaman Yesus terhadap orang Yahudi diungkapkan dengan cara yang berbeda dari satu penulis Injil kepada penulis Injil yang lain. Misalnya: penulis Injil Yohanes mengatakan ‘Ambillah semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan’ (Yoh. 2:16). Penginjil Lukas menulis ‘Rumah-Ku adalah rumah sembahyang. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun’ (Luk. 19:46). Penginjil Markus: ‘Rumah-Ku disebut rumah sembahyang bagi segala bangsa? Tetapi kamu telah menjadikannya sarang penyamun’ (Mrk. 11:17). Sedangkan Penginjil Mateus menulis ‘Rumah-Ku akan disebut rumah sembahyang. Tetapi kamu ini, menjadikannya sarang penyamun’ (Mat. 21:13).







