Pada pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran yang kita rayakan ini, selain kita mensyukuri – kehadiran Allah di tengah umat-Nya; mengungkapkan kesatuan Gereja Katolik di bawah gembalaan Paus Leo XIV sekarang; kita juga didorong untuk membarui iman dan serentak mengenang sejarah keselamatan kesetiaan Gereja dari sediakala hingga saat ini – secara perorangan atau secara pribadi kita diajak untuk berani membongkar diri kita dari segala dosa dan keinginan jahat; dari kebutaan manusia yang tak beriman dan membangunnya kembali sesuai apa yang dikehendaki oleh Allah sendiri.
Lalu sesuai dengan Sabda Tuhan hari ini, kita mau membangun hidup baru berdasarkan atau berpedoman pada kesepuluh perintah Allah. Itulah pesan dari Bacaan Pertama (bdk. Yeh. 47:1-2.8-9.12); yang menjadi pedoman dasar hidup kristiani.
Pemakluman kesepuluh perintah Allah ini, didahului oleh satu pendasaran teologis: Akulah Tuhan Allahmu. Itu berarti, hanya Allah yang patut dan harus disembah. Tidak ada Allah yang lain. Manusia tidak dapat menciptakan allahnya sendiri. Hanya ada satu Allah, yang Esa, yaitu Kristus Tuhan. Karena itu, Dia harus dipuji, disembah dan ditaati.
Kerja kebun atau bangun rumah di Hari Minggu, olahraga pada Hari Minggu, pergi jualan di pasar pada Hari Minggu dan tidak datang sembahyang atau beralasan ini dan itu; itu tipe manusia yang menciptakan allahnya sendiri. Menjadikan yang lain tuan atas dirinya. Padahal Allah sudah menegaskan bahwa di luar Dia, tidak ada Allah yang lain.
Kekuatan suatu hukum juga terletak pada siapa yang mengeluarkannya. Kalau Allah sendiri yang mengeluarkannya, maka kekuatan hukum Allah ini berdiri di atas segala-galanya dan manusia harus turut dan taat kepada hukum itu, tanpa kecuali.







