Namun, bukankah kita sekian sering salah melangkah, salah arah dan juga sesat tujuan? Kita terserap dalam dunia yang ramai dan sibuk. Tidakkah kita jatuh dalam perangkap dosa, yang didukung kuat oleh apa yang disebut St. Thomas Aquino sebagai kelemahan kehendak akibat dari dosa asal?
Abu, ingatkan kita akan betapa rapuhnya kita. Tetapi, abu juga ingatkan kita untuk kembali pada asal kehidupan dan apapun kekuatan yang meneguhkan hidup kita sebagai manusia. Sebab itu, mari kita lihat kesempatan penerimaan abu ini, sebagai momentum penuh rahmat kita menata diri dan merancang kembali arah dan tujuan ziarah hidup dalam Spirit Kristiani.
Mari kita kembali pada Allah, pada Kasih-sukacita dan KebaikanNya yang tak terbatas! Banyak kali kita dengarkan ungkapan hati kita untuk kembali dan merindukan Tuhan. Tetapi, kita, dalam kata-kata Paus Fransiskus, sepantasnya sadar bahwa ‘Allah yang mahakasih itu selalu rindu dan menantikan kita, anak-anakNya untuk kembali. Sayangnya, kita terlalu asyik dengan segala kesibukan kita!’
Mari kita kembali dengan penuh tulus kepada sesama. Penerimaan Abu adalah simbol kembali kepada Persaudaraan Debu Tanah. Dosa terhadap sesama berawal mula ketika saya tak sadar bahwa ‘saya seperti saudara-saudariku semua tercipta dari debu tanah.’ Di area kompetisi hidup yang berat, sulit dan tak sehat, relasi subyek-obyek, superior – inferior, pelaku – sasaran/korban sering jadi tak terelakan.
Ingatlah! Terhadap sesama, tidak kah kita sering penjarakan mereka dalam ‘pikiran kita, tafsiran kita, sikap hati kita dan dalam ungkapan nyata melalui kata-kata dan sikap kita yang merendahkan. Terhadap sesama pola atau sikap kita hanya terbatas pada standar ‘like and dislike’ (suka dan tak suka) dan sayalah yang menjadi ukuran pasti dan mahabenar untuk semua.







