Mereguk Persaudaraan Debu Tanah

IMG 20250303 WA0007

Demi sikap tobat hati kita terhadap sesama, mari kita kembali pada kata-kata berikut ini:

“Saat kau menghina dan merendahkan sesamamu, pada saat itu pula jembatan menuju kekudusan pribadimu menjadi ambruk, runtuh” (St Fransiskus Asisi).
Kata-kata inspiratif dari Santa Teresa dari Kalkuta bisa dibahasakan secara lain,
“Kita akan kehilangan banyak kesempatan untuk mencintai sesama kita, ketika kita terus menghujaninya dengan kebencian dan rasa tak suka.”

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dan gema memandang orang lain penuh sejuk teduh pun dicanangkan St Thomas Aquino. Katanya,
“Ketika engkau memandang sesamamu, maka pandanglah dia dengan penuh Harapan di dalam Kasih Allah.” Setiap anak manusia selalu ada dalam harapan di dalam proses ‘menjadi dalam rencana dan penyelenggaraan Tuhan.’

Setiap kita, Umat Beriman, berkontemplasi bahwa di dalam kisah penerimaan debu kita dituntun untuk melihat bahwa di dalam kerapuhan kemanusiaan, tetap ada kekuatan kasih Allah! Yang menghidupkan dan yang meneguhkan. Sejarah hidup setiap kita adalah sejarah kasih Allah. Sejak hari kelahiran hingga hari-hari dan saat ini, dan akan berlanjut seterusnya dalam Kasih Abadi.

Dan akhirnya, Penerimaan Abu, masa tobat ini, pulangkan kita kepada diri sendiri! Masa tobat adalah momentum untuk mengembangkan dan memperkaya diri dengan apa yang disebut “On going Formation” (Formasi yang terus belangsung). Seluruh kisah hidup dan peristiwa yang kita alami bukanlah kisah sejarah yang kosong, tetapi sepantasnya dilihat sebagai cermin. Dengannya kita dapat berkaca untuk melihat kedaulatan diri kita.

Pos terkait