Kawan ku…
Kau dan aku, kita sama-sama, imani Allah Bapa yang mahapengasih dan mahapenyayang. Dialah Allah Bapa dari semua dan untuk semua.
Namun, kawan ku…
Lihatlah betapa sering kita tak bertahan dalam kasih yang mesti kita nyatakan dalam: penerimaan, pengampunan dan turut bersukacita. Kita imani Allah yang sungguh mahabaik, tetapi kenapa kah kita terus bertahan dalam ‘amarah, kekerasan, sikap menekan, dendam, dan tak mau masuk dalam persekutuan sukacita bersama?’ Kita merasa kecewa dan protes berat pada Bapa, Allah kita. Sebab IA tak menghukum dan mengusir sejadinya ‘saudara-saudari yang nyata-nyata sudah keluar alam kerumahan.’
Kawan ku…
Renungkanlah! Bapa bersukacita atas kepulangan si bungsu. Bagaimanapun, ia tak sekian larut dalam suasana perayaan pesta itu. Sebab ia tetap punya hati dan sadar akan kemarahan si sulungnya. Ia pun mencari dan menjumpai si sulungnya.
Kawan ku…
Seperti itulah kemuliaan dan kebesaran hati Allah yang diwartakan Yesus. Kita, anak-anakNya yang ‘hilang disambutNya kembali.’ Kita yang merasa diri ‘tak hilang dan marah-marah’ diundangNya pula untuk sanggup ‘masuk dan bergembira bersama dalam satu persekutuan.’
Kawan ku…
Allah Bapa sungguh tahu bahwa seringkali ‘kita tak enak hati dan kecewa’ bahwa KasihNya begitu agung dan menyapa serta menyambut semua anak-anakNya. Itu semua karena kita merasa diri ‘lebih berhak dalam Kasih Allah ketimbang saudara-saudari kita yang lain.’
Verbo Dei Amorem Spiranti
Tuhan memberkati
Amin







