Kebenaran Itu Tak Akan Pernah Tersekap

Kons beo5 1

Perlahan namun pasti, kebenaran itu mulai berwibawa di dalam dirinya. Sebab kebenaran itu tidak bisa diborgol. Tak bisa ditekan dan diancam. Yang paling tak disukai oleh kebenaran adalah negosiasi kiri kanan. Sebab dalam negosiasi kebenaran ‘merasa diri’ diatur-atur. Dan itu tak mungkin!

Dalam negosiasi siapapun dicurigai tak peduli akan kebenaran dan kebaikan. Sebab di situ, tak terdapat “usaha mencari yang terbaik (dan benar), tetapi hanyalah usaha untuk mempertandingkan kekuatan. Yang penting menang, dan pedoman terakhirnya adalah hukum” yang bisa juga ‘diatur dan dirayu.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tak Pernah Ada Regim Kebenaran

Terlalu mudah bagi si jenderal bintang dua, Ferdy Sambo, untuk tunjukkan ‘kuasa dan perintahnya.’ Kolaborasi dan solidaritas negatif dapat dibangun. Tetapi Sambo mungkin tak pernah sadar. Ia tak identik dengan kebenaran itu sendiri. Ia tak akan pernah jadi diktator mahabenar dari sebuah regim yang sekian rapuh itu.

“Pesawat itu telah jatuh. Itulah kematian si Josua.” Kotak hitam telah ditemukan. Perlahan namun pasti telah dibuka. Diselidiki. Penuh saksama dan runtut. Ditulis perlahan dalam tesis-tesis sangkaan. Semuanya akan mengarah pada sidang pengadilan. Bermuara pada putusan. Indonesia mesti bersabar. Dan memang harus bersabar lagi.

Kebenaran Tak Pernah Terkalahkan

Kita pasti tak bisa nafikan satu kenyataan. Josua telah mati dengan cara tragis. Duka dan air mata belum terhenti. Rosti, sang ibu dan Samuel, ayah Josua, serta keluarga sepertinya tak ingin ‘dihibur.’ Terlalu pilu untuk harus merasa ditinggalkan Yosua. Derita lahir batin tak tertahankan. Itulah kebenaran derita psikologis yang sungguh menyayat.

Pos terkait