Bagaimanapun, kematian Josua adalah satu pedagogi nurani yang teramat mahal. Kisah di Jumat, 8 Juli 2022 itu memaksa siapapun untuk memaknai kedalaman dari nilai kebenaran. Dalam masyarakat yang semakin terbelit kusut hanya demi kepentingan berbendera ego yang personalistik dan groupism, nilai-nilai kehidupan sekian mudah lepas tercecer. Pecah-pecah dan berantakan!
Tak ditampik kenyataan, kebenaran yang disangkal akan menuntut sekian banyak energi (yang tak perlu terkuras) demi membentengi rawa-rawa kebohongan. Betapa sulitnya berjalan di lintasan kebenaran. Selurus dan sejujurnya. Lebih mudah untuk kisahkan serial ‘rekasaya kebenaran’ (kebohongan). Sayangnya, orang uarkan kebohongan namun memakai ‘topeng kebenaran.’ Paradoks memang!
Krisis Nilai tetap Mengintai
Hidup di zaman yang serba modern ini, tentu tak dengan sendirinya jadi garansi untuk serba kejelasan. Kita tak luput dari krisis kebenaran. Pun berbagai krisis nilai lainnya. Bukanlah opini yang sekian spiritualistik atau dituduh berada di alam spiritisme bahwa daya kontemplasi seyogiyanya mesti jadi satu jembatan menuju kebenaran.
Ketergesahan, kepanikan, serta aneka tekanan telah sibukan batin. Maka, di situ tak ada ruang sedikitpun untuk melihat satu sama lain dengan tepat dan benar. “Kontemplasi,” kata si bijak berarti, “telanjang dan dengan rendah hadir untuk hadir secara penuh bagi yang lain.” Maka, batin dan suara hati mesti dihidupkan (kembali).
Tetapi, apakah Josua harus pergi oleh kebenaran nilai yang diusungnya? Bahwa di dalam dirinya tersimpan ‘kebenaran yang sungguh berisiko?’ Jika benar bahwa adalah Bharada Richard Eliezer Pudihang yang dipaksa jadi algojo maut, maka sedemikian rapuhkah dirinya untuk ‘mengubah sikapnya terhadap Josua sebagai sesama Korps Tribrata dan sahabat? Dan lalu Josua mesti jadi musuh yang mesti digayang?







