Ia Telah Mati namun Ia Tetap Hidup
Di titik ini, terenunglah kata-kata Yesus, Guru dari Nazaret. “Barangsiapa mempertahankan nyawanya akan kehilangan nyawanya, sebaliknya yang kehilangan nyawanya karena Aku, akan menyelamatkanya” (Injil Matius 10:39). Eliezer telah selamatkan ‘nyawanya’ sendiri di bawah ‘kebenaran Sambo.’ Namun, ia akhirnya harus tersekap dalam ‘kehilangan nyawa’ dalam banyak titik.
Tetapi, mungkinkah si Josua yang telah ‘kehilangan nyawanya’ sungguh masuk dalam ‘forma menyelamatkannya?’ “Ia jatuh ke dalam tanah dan mati bagai biji gandum, tetapi hasilkan banyak buah” (Yohanes 12:24). Di dalam kematian tragis itu ‘kebenaran, kejujuran, kesetiaan, serta keadilan’ semakin bersinar. Ia mesti bercahaya demi dirinya, demi institusi kepolisian, demi nilai, dan demi iman yang diakuinya.
Akhirnya
Tak pernah ada kata menyerah demi kebenaran. Tetapi, jauhilah prasangka yang bukan-bukan. Kesabaran mesti dimiliki. Adakah sesuatu yang dapat dipahami di balik geliat sang Jendral, jika benar ia adalah dalang dari semuanya? Sekian banyak anggota korps yang diduga, kini bagai pecahan-pecahan mozaik yang mesti ‘terhubungkan.’ Semuanya demi satu gambaran menderang dari semuanya.
Kita tetap berdoa dan berharap di dalam tegasan kebenaran ajaran Yesus dari Nazaret. Dia yang diimani sang jendral, Ibu Putri, Josua dan Eliezer, “Sit autem sermo vester, est, est; non, non: Quod autem his abundantius est, a malo est” Jika Ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat (Matius 5:37).







