Disinyalir, seusai pertandingan itu sempat ada ribut-ribut di kubu Prancis. Cecok itu libatkan keluarga para pemain seperti Pogba, Rabiot dan Mbappe. Seolah tak mau anak mereka dipersalahkan dalam kekalahan itu.
Kata-kata Veronique Rabiot bagi Fayza Lamari, ibu dari Mbappe, sungguh menukik tajam. Agar Mbappe perlu dididik agar jangan terlalu sombong! Wah, apa benar Mbappe sombong? Jangankan cuma Mbappe, bahkan seluruh kesebelasan Prancis dinilai lawan terlalu sombong.
Mari susuri celoteh Yann Sommer, kiper Swiss itu. Menurut Sommer, “Ini harga yang harus dibayar oleh karena kesombongan mereka”. Senada dengan itu, Granit Xhaka, kapten Swiss bersuara, “Itu sulit dipercaya. Semua orang Swiss bisa bangga atas kemenangan ini. Kami mengalahkan Prancis”. Bahkan Xhaka tambahkan, “Prancis dianggap sebagai sebuah tim yang sombong. Dan hari ini kami memaksa mereka untuk diam.”
Sombongkah Prancis? Tetapi itulah komen lawannya. Kita rasanya perlu serius merenung. Di atas pentas tanding, perlu tenangkan hati. Jangan remehkan lawan jika peperangan tengah berlangsung atau belum terjadi. Terkadang ‘anggap diri hebat’ dan ‘anggap enteng lawan’ sudah jadi modal untuk keok tersungkur.
Jangankan di sepakbola, di arena tinju pun sering ada petinju yang ‘sombongnya mati punya’ akan lawannya. Ambil saja contoh seperti Adrien Broner, si mulut besar yang digasak Marcos Maidana di tahun 2013. Atau ada Margarito, si boxer Meksiko itu yang hinakan Manny Pacquiao sebelum adu jotos. Tetapi di ujung laga di Nopember 2010 itu, wajahnya ancor lebam-lebam mama mia. Dan biji matanya Margarito pun nyaris copot.







