Sepakbola terkadang gambarkan telak mitologia aura psike manusia di tatanan individu pun kelompok. Nampak besar, berjumlah banyak, populer, berkedudukan, punya pengaruh, tak selamanya wajib dengan sendirinya kokoh nan tangguh! Jangan-jangan sebatas ber-body truk expedisi, tapi sebenarnya berjiwa-mental hanya 110 Cc. Sekelas honda revo. Artinya nama besar, jumlah banyak dan terkenal tak selamanya jadi modal utama untuk jiwa kebertahanan. Kerentanan jiwa sering terlihat nyata dalam kekacauan sikap dan perilaku. Dan persis di situlah kekalahan itu. Itukah yang disebut, katakan saja, sindrom Goliat? Atau?
Repotnya lagi bila nada keangkuhan mulai datang menjebak. Kekalahan telah berdiri di depan mata. Mari kita ingat kisah di Kitab Pertama Samuel 17:40-58. Si raksasa Goliat sedemikian angkuhnya di depan Daud.
Panglima kebanggaan Filistin (Palestina?) itu menyindir tajam Daud bin Isai, anak muda Israel, “Anjingkah aku maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” (1Sam 17:43). Si raksasa itu lanjut, “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara” (1Sam 17:44).
Tetapi, dengan lantang Daud balas bersuara, “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan Nama Tuhan” (1Sam 17:45).
Di ujung kejadian, Goliat, si raksasa itu tumbang. Si besar dalam segalanya itu nyonyor jadinya. Ia kalah mengenaskan! Ia terjerembab oleh keangkuhan diri tanpa titik. Tanpa jedah.
Tetapi, mari kembali ke Euro 2020. Ya, itulah nasib kesebelasan Les Bleus, Prancis. Raksasa sepakbola dunia yang disinyalir sombong. Pun mungkin ia terlanjur terbungkus pula oleh mitos nama besar dan segala hebatnya. Yang diyakini pasti dengan mudah menghajar lawan-lawannya. Nyatanya? Malah lantas mesti duluan pikul koper pulang kampung. Tanpa sebuah final. Tiada kemenangan jaya.







