Aku Terkenang John Prior, SVD

tony kleden2

john2

John Prior tidak memperkenalkan dirinya. Dia membiarkan kami mengenalnya sendiri. Dan kami kemudian mengenalnya dengan lebih baik  di ruang kuliah.  John mengampu mata kuliah metodologi penelitian. Belakangan dia membagi ilmu sosiologi dan teologi kontekstual.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kecuali sepatu olahraga, selama 8 tahun di Ledalero saya belum pernah melihatnya memakai sepatu resmi dan berpakaian necis.  Baik di gereja maupun di ruang kuliah. Sandal jepit tipis menjadi alas kakinya.   Di gereja kalau ada doa atau misa,  John  selalu duduk di belakang. Lebih sering dia duduk bersilah. Melipat kedua kakinya. Buku alkitab selalu di pangkuannya.

Berbeda dengan kita yang lain, yang merawat alkitab penuh tanggung jawab, John suka melipat, mencoret lembaran-lembaran alkitabnya.  Dia baca dari depan, dari Kitab Kejadian, hingga Kitab Wahyu di bagian paling akhir. Hampir semua halaman penuh dengan coretan-coretan. Selesai baca, John ganti lagi dengan alkitab baru.

Suatu kesempatan saya protes. “Itu kan kitab suci, isinya firman Allah. Kenapa diperlakukan dengan cara yang tidak santun seperti itu? Kenapa harus dicoret-soret dan jadi kotor?”

John menatap saya serius. Matanya tajam. Tanpa senyum. “Yang saya coret itu kertas saja, bukan firman Allah. Saya mau menyelami firman Allah. Kalau penuh coretan wajar saja. Dari pada bersih, licin karena jarang dibuka dan dibaca,” katanya enteng.

John memang membaca dengan teliti dan menyelami isi kitab suci dengan baik. Memahami konteksnya juga dengan sangat baik. Tak heran, kotbahnya sarat pesan biblis.

Pos terkait