Dalam keseharian, John selalu tampil beda. Di luar pakem yang sudah lazim. Dia bukan imam yang suka jaga penampilan yang necis dan rapi. Dia tampil apa adanya. Kadang-kadang celana pendek. Banyak tamu mengiranya bule yang berkunjung ke Ledalero.
Materi kuliah dan terutama materi ceramahnya tajam dan menukik. Sering juga menggugat. Menggugat kemapanan. Dia ingin isi kitab suci dibaca dalam konteks hari ini. Tepat dia dikenal sebagai teolog dengan perhatian besar pada teologi kontekstual.
Perhatiannya pada teologi kontekstual inilah yang membawanya tampil di ruang kuliah dan seminar di mana-mana. Di Indonesia, juga di luar Indonesia. Referensinya sangat kuat. Itu hanya terjadi karena dia kutu buku. Lebih dari separuh waktunya sehari dihabiskan untuk membaca.
Secara pribadi saya cukup dekat dengan John. Di semester tujuh saya menulis skripsi dengan judul Kebebasan Manusia dan Tanggung Jawab Moral. Dia protes tema skripsi ini.
“Itu abstrak sekali. Apa yang kamu dapat pelajari dan petik hikmah dari tema itu? Cari dan tulis yang kontekstual, yang ada guna gananya saat kamu ada di tengah umat,“ kritikya.
Saya jalan terus. Tetap dengan judul skripsi itu. “Ah, skripsi ini kan pro forma saja. Saya ingin selesai sebelum ke tempat praktek.” Saya tidak mau kalah.
Demikianlah, saya ujian skripsi sebelum ke tempat praktek di SKM Dian Ende medio 1992.
Di tempat praktek di Ende, prahara datang. Gempa tektonik menggoyang Flores, 12 Desember 1992. Gempa dahsyat itu mengguncang bumi. Merenggut nyawa ribuan orang. Mrobohkan bangunan dan kemudian meratakannya dengan tanah. Tetapi gempa itu juga ikut mengguncang panggilan banyak dari antara kami.





