Tawaran itu membuat saya berpikir panjang. Meninggalkan SVD, tetapi tetap tinggal dan kerja di Ledalero? Ini yang berat.
Beberapa hari kemudian saya menemuinya di kamar. “Saya mau mengadu nasib di tempat lain, tidak di Ledalero. Saya ingin ke Jakarta,” kata saya.
Di luar dugaan, John mendukung keputusan saya. Dia tidak kecewa.
“Oke. Saya siap memberi rekomendasi untuk kamu bawa. Kalau kamu ke (Penerbit) Gramedia bawa dan beri rekomendasi ke Frans Meak Parera. Kalau ke Kompas, beri rekomendasi ke Daniel Dhakidae,” katanya.
Ah, John, engkau terlalu baik. Surat rekomendasimu masih saya simpan sampai hari ini.
Di Jakarta setahun, saya tidak pernah melamar ke Kompas atau Penerbit Gramedia.
Setelah beberapa tahun bergabung di Harian Pos Kupang, saya bertemu John di Puslit Candraditya di Wairklau, Maumere. Seperti biasa, John selalu bercanda dan suka usil.
“Kamu di Pos Kupang? Enjoy?” Kami tertawa bareng. Kami kemudian berdiskusi banyak hal.
Ketika ramai-ramai orang mendirikan partai politik di Indonesia, Dr. Jan Riberu mau mendirikan Partai Katolik Indonesia. Niat itu sudah disosialisasikan di banyak forum dan tempat.
Merespon niat mendirikan Partai Katolik itu, John mengirim sebuah naskah via email ke saya. Judulnya sungguh mengejutkan. “Siapa Yang Membajak Agama Saya?”
Sebagai penjaga halaman opini Pos Kupang, saya berpikir panjang terhadap naskah opini itu. Terbitkan? Atau drop saja?
Butuh waktu beberapa hari mempertimbangkan naskah itu. Keputusan harus diambil. Baik juga diterbikan. Selain memperkaya wawasan pembaca, juga Pos Kupang perlu membiasakan diri dengan polemik-polemik tematis di halaman koran. Itu argumen menerbitkan naskah itu.





