Aku Terkenang John Prior, SVD

tony kleden2

Dan, terbitlah naskah John itu di halaman opini Pos Kupang.

Seperti sudah dibayangkan sebelumnya, sontak saja tulisan itu menjadi polemik panjang berbulan-bulan.  Banyak penulis mengirim tanggapan. Pro dan kontra. Ramai.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ketika bertemu dengan John di Kupang, saya mengganggunya. “Tulisan opini itu membangunkan banyak ular  yang selama ini tidur pulas. Semua ilmu keluar,” kata saya.

John hanya tertawa.

“Tetapi semua orang menunggu respon Pater seperti apa? Saya tunggu tulisan tanggapan Pater,” saya menyergahnya.

“Perlukah saya tulis dan ajar orang banyak lagi? Tidak perlu saya tulis tanggapannya,” kata John serius.

Polemik panjang itu akhirnya ditutup tanpa tanggapan balik dari John.

Sebagai penulis, John sangat produktif. Ratusan tulisan ilmiahnya terbit di beragam jurnal. Dalam dan luar negeri. Puluhan buku juga sudah lahir dari tangannya. Artikel pendek dan populer telah menghiasi halaman banyak koran.

Untuk menulis di koran, John tipikal penulis kasus. Menulis ketika ada kasus yang menjadi perhatian umum. Tulisannya sangat apologetis. Kuat dalam argumentasi. Kokoh dalam pendirian.  Melontarkan kritik tajam. Tetapi juga menawarkan ide brilian.

Ketika kabar kepergiannya  datang dari Ledalero, Sabtu 2 Juli 2022 pagi, saya sungguh larut dalam duka. Hasrat menulis memoar misionaris asal Inggris yang mendarmabaktikan seluruh hidupnya di  Flores ini begitu menghentak. Tetapi hasrat itu tertahan karena tangan terasa dingin.

Ah, John masih terlalu pagi engkau pergi. Terlalu cepat engkau pulang ke rumah abadimu. Terlalu pagi dan terlalu cepat karena bersamaan dengan perubahan status Ledalero. Dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) menjadi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero.

Pos terkait