Aku Terkenang John Prior, SVD

tony kleden2

Medio 1993 saya kembali ke Ledalero. Ledalero yang megah itu sekarang tinggal puing-puing. Porak poranda. Barak-barak dibangun  menggantikan asrama para frater.  Perkuliahan dipindahkan ke barak-barak yang dibangun di kompleks Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.

Saban pagi mesti jalan kaki ke tempat kuliah. Ini  membosankan. Juga melelahkan. Saya mulai ogah ke tempat kuliah. Apalagi semua mata kuliah wajib dan pilihan sudah tuntas. Sudah lulus.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Membunuh kebosanan, saya lebih sering mampir di kamar John. Cerita-cerita saja. Dari yang ringan-ringan hingga yang bikin pening kepala.

Suatu hari John ambil satu bundelan tebal. “Ini, tolong kamu baca. Sesudah itu terjemahkan beberapa bagian yang sudah saya beri tanda,” katanya.

Saya buka beberapa halaman. “Wah, ini tentang adat perkawinan orang Lio. Saya tidak suka baca ini,” saya menolak.

Saya tidak tahu apakah naskah itu disertasinya atau makalah panjang yang ditulisnya.

John menatap saya dengan tajam. Saya tahu dia kecewa. Karena dia butuh waktu lama melakukan penelitian lapangan untuk menulis naskah itu.

Tidak mau mengecewakannya, saya membawa naskah itu ke kamar. Membacanya dan menerjemahkan beberapa bagian yang diberi tanda.

Saat memutuskan untuk meninggalkan Ledalero tahun 1994, saya menemuinya di kamar.

“Saya sudah dengar kamu berhenti.  Tidak apa-apa. Itu keputusan dan pilihan bebasmu. Tetapi kamu tidak perlu meninggalkan Ledalero,” kata John.  Nadanya serius. Tanpa senyum.

“Kamu boleh bergabung dan kerja di (Puslit)  Candraditya. Tetap tinggal di wisma (Wisma St. Agustinus), makan dan minum bersama dengan frater-frater. Satu bulan kamu dapat gaji Rp 25 ribu, karena ongkos tinggal dan makan minum tidak perlu kamu cari lagi. Setelah satu tahun, kamu boleh sekolah lanjut dan kembali ke sini.  Silakan pikir dan beri jawaban,” kata John menawarkan saya kerja.

Pos terkait