Sisi Lain Bocor Alus
Bagaimana pun, banyaknya penggemar Bocor Alus tak berarti ia bebas dari penilaian kritis! Lima Sekawan itu, saat kumpul-kumpul, bisa saja lagi bekerja sama ‘untuk memasang potongan-potongan masing-masing info agar nantinya terlihat dan terdengar sebagai satu mozaik peristiwa. Ada yang beri info, ada yang bertanya, ada yang tegaskan, ada yang seolah membenarkan! Asyik kan? Ringan, enak, mengasyikkan, dan digemari publik. Mungkin karena itulah kebanyakan berlima itu sekian bebas dalam canda dan tawa….
Namun, di sisi lain? “Sumber belum jelas, hanya sebagai pengantar berita, bersifat subyektif” itulah yang dikritisi (cf Annisa Adelina). Katakan begini saja, alih-alih merakit kejadian dengan narasi logik ‘sebab akibat, dengan silogisme premis mayor – minor hingga mengarah pada ergo sebagai konklusi, Bocor Alus juga bisa diduga tengah terjerembab dalam ‘keasyikan saling menyesatkan.’
Toh, namanya juga bicara atau beropini dari sudut pandang pribadi. Di situ tak ada narasi kontra atau argumentum yang menantang atau sebagai pembanding tegas. Iya, seputar berlima itu saja yang mengkaroseri potongan-potongan info jadi satu bingkai kejadian hasil rembukan bersama. Walau samar-samar, tapi cukup mengandung umpan bagi publik untuk menjelajahi lebih jauh. Dan persis seperti itulah yang diharapkan Tempo dengan Bocor Alus-nya. Apalagi sekiranya publik umumnya, bisa secara sederhana memahami pergolakan dan semua manuver politik kekuasan dan penguasa di Tanah Air.
Di Keseharian Kita?






