Antara “Bocor Alus” dan Masyarakat Bocoran

IMG 20241122 174108

Sebetulnya irama dan dinamika Bocor Alus bukanlah alur baru di rana sosial. Di keseharian, peta percakapan beraroma seperti itu pula. Bukan kah cerita penuh nikmat itu adalah info terkini, yang masih samar dan belum terasa, atau apalagi yang bernuansa seram-seram dan suram-suram tentang figur (publik) tertentu. Di situ siapa pun bisa rasa diri ‘besar dan bermanfaat’ bila ‘sanggup beri info, kesaksian, pikiran, tanggapan serta tafsiran…’

Individu bakal merasa besar kepala sekiranya ia dianggap punya info terjamin karena ia ‘dekat dan dapat dari orang dalam. ‘Ramai-ramai duduk dan mulai asal omong bisa lahirkan satu konsensus tentang sesuatu atau mengenai seseorang. Tak peduli, apa semuanya benar-benar nyata, atau sekedar ‘buang-buang kata atau lempar-lempar bola liar isu ini dan itu.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Maka, fakta Masyarakat Bocor Alus, memang sudah tak terbendung. Salah paham, retaknya relasi, timbulnya sebatas rasa tidak baku enak antar individu bisa terlahir akibat info-info Bocor Alus yang berhembus. Merembes ke sana dan ke mari. Individu ingin segera dilayani rasa ingin tahunya dengan pertanyaan baku, “Sudah ada bocoran ka?”

Alus Namun Sebenarnya Menderu

Sungguh, Bocoran – Bocor Alus, memaksa siapapun untuk segera berkisah dan diinfokan secepatnya.’ Mungkin dengan semangat ‘lebih cepat – lebih baik, dan juga lebih seru.’ Masyarakat zaman kini, oleh Bocor Alus dan Bocoran telah tergilas ‘dalam kesabaran akan pemberitaan resmi, akan satu penantian hingga saat yang tepat.’

Itulah yang bikin seorang sahabatku pernah jadi emosional serius. Ia sekian kurang hati. Sebab tergesernya ia ke tempat dan posisi lain sama sekali belumlah ia dapatkan dari suara resmi hirarki-pimpinan, toh malah amat sayup-sayup ia tanggap dari gelombang suara Bocor Alus-Info Bocoran yang sudah terhembus dan tempias di situ dan di sana.

Pos terkait