Tak usah ditutup-tutupilah. Malam 18 Desember 2022, tak boleh cuma dihitung sebatas ‘baku sikatnya’ Argentina vs Prancis di Final Piala Dunia. Sebut saja bahwa momentum ini juga sebagai ‘perayaan judi sejagat.’ Orang-orang sudah pada taruhan. Adu keberuntungan. Walau, ada risiko penuh nyonyor sekiranya kalah yang berujung sial, tentunya.
Laga final ini tentu ‘sedikit curi perhatian’ khalayak. Bisa saja sudah jadi tema utama di kantor, sekolah, tempat kerja sama, atau di perkumpulan mana saja. Bisa jadi pula, nantinya umat segera lupa akan inti homili pastor di misa hari Minggu IV Adventus, 18 Desember ini. Apalagi bila tema homilinya terasa berat.
Pastor yang ‘gila bola ngeri mati punya’ pun bisa-bisa saja tak konsen siap kotbah. Wah, ini mungkin bayangan yang keterlaluanlah! Yang lagi siap koor natal, terutama nyong-nyong OMK, misalnya, tentu tak luput dari aura partai puncak ini. “Mo bilang apa sudah?”
Ketika Messi dkk dan Mbappé dkk lagi diskusi seru dengan rekannya masing-masing, di hari-hari ini Tim Sambo pun lagi berpikir dan atur strategi demi beradu terus di arena pengadilan. Brigadir Josua adalah ‘bola mati.’ Namun, bukankah ‘bola mati’ itu nyatanya mesti dibangkitkan kembali dan harus dimainkan terus? Mesti dipastikan dan jelas: Bagaimana hikayatnya sampai ia mesti jadi ‘bola mati.’ Apa, siapa, serta bagaimana sesungguhnya di balik semuanya itu?
Lihatlah! Di lapangan pengadilan, Sambo masih berusaha untuk tampak tegar. Iya, masih berusaha tampak ‘keras dan rasa masih punya kuasa.’ Masih ada tacling-tacling-nya berbekal mantan jendral bintang dua itu. Namun, bukan kah semuanya itu mudah dihadang para penantangnya?







