Tataplah pula Ibu Putri Candrawati. Di hari-hari ini, tampak sembab dan keletihan. Bagai candra tertutup awan gemawan. Menjadi striker andalan Tim Sambo memang tak gampang. Masuki ‘stadion pengadilan’ sepertinya tak berbekal spirit kemenangan. Tanpa gairah. Sebatas percaya diri yang gemetaran. Namun harus dipaksakan.
“Bergerak sana-sini tembusi pertahanan lawan bukan perkara gampang, Ibu.” Tak mudah untuk tiba pada gawang para hakim. Demi hanya pastikan untuk satu gol kemenangan nantinya! Tak mudah memang.
“Bagaimana harus menang, Ibu, jika di putaran final pengadilan nyata-nyata sungguh mati gaya hanya dengan teknik andalan: ‘saya lupa, saya tidak tahu, dan saya sedang tidak enak badan‘?
Dan di hari-hari hanya ada tangis keluh menyayat di hati Sambo. Sungguh terasa perih. Tak terkirakan. “Justice Collaborator” si Bharada Eliezer itu, tentu bagi Sambo dan Ibu Putri, adalah titik empedu paling pahit. Dan itulah yang mesti diteguk. Tim Sambo dan segala arahan awal yang rapih dan tertata harus jadi kocar-kacir dan berantakan.
Strategi boleh diracik. Penguasaan bola boleh di atas 50 %. Serangan demi serangan boleh dibangun, toh itu tadi, kuasai dan memenangi meja palu hakim nantinya, bukanlah perkara mudah. Dewan hakim yang mulia itu tentu tak ingin cuma disapa ‘mulia.’
Para hakim itu pun lagi berjuang untuk bermulia hati yang seharusnya. Yang berdiri di atas batu karang kebenaran. Mereka lagi pastikan bahwa di arena sidang haram hukumnya untuk tembang “dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah.” Sekiranya Dewan Hakim itu rasa tak sabaran untuk membentak setengah tanya, “Mengapa kita bersandiwara?”







