Tetapi, bagaimana pun kebenaran tetaplah kebenaran! Tim Sambo, di hari-hari ini, tengah bertarung dalam kesendiriannya. Tak utuh lagi seperti yang dibayangkan. Setidaknya, itu yang terbaca dari ‘kemarahan dan tak nyamannya Bharada Eliezer yang terpenjara dalam hidup.’ Dan ia ingin akhiri semuanya. Di dalam batin nan ceriah. Eliezer memang semula diam dan berkelit. “Namun senyum” dan arwah kakanda dan sahabatnya Brigadir Josua itu, “tetap mengikuti…”
Oh iya, mari kembali pada ke laptop si Messi dan Mbappé. Argentina dan Prancis, berikut dengan masing-masing fans beratnya, lagi siap-siap menuju hari Final di Lusail Stadium itu. Sebab di situ, semuanya mesti berakhir. Di situ, aura sorak-sorai atau tangisan sedih bakal jadi satu keharusan. Tak terhindarkan.
Itulah juga wajah diri kita. Manusiawi dan memang seperti itu sudahlah. Sedih dan gembira, tegar dan rapuh, menang dan kalah adalah keseharian yang membungkus keinsanian.
Entah Messi dkk ataukah Mbappé dkk yang nantinya akan bereforia dalam nostalgia Ferddie Mercury – Queen, “We are the champions, my friends and we’ll keep on fighting till the end…. No time for losers. ‘Cause we are the champions of the World,?
Wah, sekiranya Tim Sambo masih teringat Group Musik Armada? Dan saling bertanya di antara mereka, “Mau dibawa ke mana hubungan kita? Ku tak akan terus jalani. Tanpa ada ikatan pasti…” Toh, Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat sudah pada pergi. Untuk selamanya. Iya, sejak Jumat, 8 Juli 2022 itu.
Verbo Dei Amorem Spiranti
Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma







