Oleh Tony Kleden

Mulanya adalah keprihatinan. Keprihatinan membangkitkan kepedulian. Kepedulian melahirkan panggilan. Dan, akhirnya panggilan meminta aksi.
Jalan lempang dari keprihatinan hingga aksi ini dilalui Golkar NTT sangat nyata terlihat dan mendominasi ruang publik di NTT hari-hari ini. Di bawah komando Ketua DPD Golkar NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mesin Partai Golkar hidup terus. Tidak pernah boleh mati. Harus tetap hangat.
Mesin partai yang hidup dan panas terus ini sudah berjalan lebih dari setahun. Pemicunya macam-macam. Musyawarah Daerah (Musda) X, awal Maret 2020. Hari ulang tahun Golkar tahun lalu. Konsolidasi partai di semua tingkatan. Situasi dan kondisi faktual NTT. Virus corona yang mewabah. Badai Seroja yang menghancurkan. Curah pendapat warga melalui lomba karya tulis ide kreatif tentang penanganan Covid-19. Lomba video pendek bertajuk Rakyat Bicara Golkar Mendengar, juga tentang penanganan Covid-19. Penjaringan bakal calon kepala daerah-wakil kepala daerah dan anggota legislatif secara dini. Pembentukan dan pembangunan ribuan Pos Karya (Poskar) Peduli Sesama. Vaksinasi massal yang tinggal tunggu hari.

Beragam pemicu ini meminta rapat, diskusi dan curah pendapat. Sharing dan berbagi pendapat, ide, gagasan. Virtual maupun fisik. Peserta rapat ‘menghadiri’ rapat di ruang maya dan dihubungkan melalui jaringan internet. Sungguh melelahkan. Tapi juga asyik. Asyik karena bisa diikuti dari mana saja asal ada sinyal internet. Asyik juga karena tumbuh habitus baru dalam urusan rapat dan pertemuan secara virtual.
Ada isu yang terkesan sepele. Tetapi didiskusikan. Dibicarakan dalam rapat. Maksudnya jelas, yakni jika ada kesepakatan, jika ada keputusan, maka itu adalah kesepakatan dan keputusan bersama. Sama-sama puas. Sama-sama bersemangat mengejawantahkannya dalam aksi dan tindakan.
Begitulah gaya Melki Laka Lena memimpin Partai Golkar NTT. Yang sudah tua dan senior duduk bersebelahan dengan yang muda belia. Yang jam terbangnya sudah tinggi beradu argumen dengan pendatang baru. Yang masih dengan pakem lama duduk bersanding dengan yang milenial.
Suasananya cair nian. Tidak jaim. Jaga imij. Tidak juga pasang wibawa. Soalnya, semua sama. Sama di satu perahu. Perahu Golkar. Semua satu warna. Warna kuning. Padahal yang hadir bukan sembarang orang. Ada sejumlah mantan bupati. Ada mantan Walikota Kupang. Ada beberapa mantan ketua DPRD di NTT. Ada sederetan mantan anggota Dewan. Ada bupati aktif yang lagi memimpin. Ada wakil bupati aktif yang juga lagi memimpin. Ada puluhan anggota DPRD aktif. Ada akademisi yang ingin urun rembug dan sumbang pendapat.
Sesungguhnya kebersamaan ini menyentuh apa yang paling dalam di inti nukleus demokrasi. Demokrasi di partai. Ada interaksi, bukan hanya instruksi. Ada solusi, bukan sekadar visi dan misi. Ada spirit kebersamaan, bukan sekadar unjuk kekuasaan. Ada curah pendapat, bukan sekadar indoktrinasi dari atas. Ada konteks lokal yang perlu dipertimbangkan, bukan asal main tunjuk orang. Hukum yang berlaku adalah totalitas dalam bakti dan kontribusi, bukan berapa lama bergabung di partai. Kedekatan tidak selalu laku.
Tepat kata-kata Ir. Ans Takalapeta, Wakil Ketua Bidang Organisasi DPD I Golkar NTT. “Pak Melki (Melki Lakan Lena, Pen) menjembatani semua kalangan dan elemen,” tandas mantan Bupati Alor dua periode ini pada acara pengumuman bakal calon legislatif dan bakal calon kepala daerah-wakil kepala daerah hasil penjaringan Golkar, Kamis, 1 Juli 2021 silam.





