Arnoldus Janssen dan Covid-19

arnoldus

Harmonisasi seperti inilah yang mesti terus dijaga. Karenanya Ia menempatkan manusia yang dengan akal budi dan kehendaknya, diharapkan dapat menjaga alam semesta. Sebuah kepercayaan yang sekaligus mengungkapkan sebuah cinta tak terbatas dari Tuhan. Ia tidak seperti manusia pada umumnya yang setelah memberikan (menciptakan) sesuatu, tetap menjaganya sebagai milikNya. Dengan demikian ketidakpatuhan manusia akan dibalas dengan bencana alam.

Tuhan kita tidak seperti itu. Gambaran mata dalam segitiga paling atas menunjukkan Allah yang menatap, memperhatikan, dan menjaga. Penjagaan tentu tidak seperti ‘satpam’ tetapi memantau dari sana, sejauh manusia menggunakan akal budi dan kehendaknya secara baik dan benar.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Yang terjadi, harapan itu tidak sesuai harapan. Secara manusiawi, tentu Ia kecewa. Tetapi balasannya tentu bukan dengan memberikan bencana alam seperti tafsiran kebanyakan orang. Mereka mengira Tuhan menurunkan bencana alam hal mana kita alami dengan Covid-19 ini. Tidak. Bencana adalah ekspresi paling nyata bahwa harmonisasi yang seharusnya dijaga itu tidak diperhatikan. Akibatnya terjadi disharmonisasi yang hadir melalui aneka bencana alam.

BalasanNya justru paling tidak disangka-sangka. Ia yang mahakuasa, duduk di singgasana, memutuskan menjadi manusia. Sebuah pengorbanan. Bukannya menghukum manusia tetapi mengosongkan diriNya, dan rela jadi manusia. Ia jadi manusia hanya agar manusia itu bisa mengikuti jalanNya untuk kembali kepadaNya.

Sebuah kehadiran yang tidak berhenti pada Yesus historis. Kehadiran itu terus ada. Roh Kudusnya merupakan bukti penyertaan tidak saja masa lampau, masa kini, tetapi mencapai keselama-lamaan. Inilah yang terungkap dalam simbol tritunggal yang diekspresikan oleh Arnold Janssen dalam figura ini.

Pos terkait