Ketiga, meski di tengah bencana tetapi harapan itu tetap ada. Kemarahan atau patah semangat bisa saja menjadi reaksi pesimisme. Tetapi di atas segalanya, terbuka harapan. SVD dengan 6.000 anggotanya di seluruh dunia dan berkarya di 76 negara merupakan sebuah kekuatan besar.
Kehadiran para misionaris yang berkarya baik dalam maupun luar negeri mengungkapkan bahwa kehadiran mereka merupakan figur yang memberikan harapan. Keberanian untuk meninggalkan segalanya demi membawa api kasih dan harapan ke tengah dunia menunjukkan bahwa optimisme harus lebih kuat dari bencana.
Tidak hanya misionaris. Awam tangguh yang lahir dari SVD juga tidak kurang. Misi di berbagai area memberikan harapan dan pencerahan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan apalagi dilepaskan. Di sana bersama, awam dan misionaris, maka jangkauan tangan itu akan kian luas untuk secara bersama mewujudkan sebuah solidaritas yang lebih baik dan terasa oleh banyak orang.
Covid karena itu bukan jadi momen untuk menangisi bencana, apalagi mempersalahkan Tuhan tetapi momen merajut kebesamaan dan solidaritas. Semua sepakat bahwa covid merupakan wabah yang melumpuhkan bila kita berjalan secara sendirian. Tetapi ketika manusia saling menopang, maka bencana itu tidak akan menjebak manusia ke dalam. Mereka (kita) justru tetap ada dan ingin terus ada dalam kasih dan solidaritas, hal mana juga jadi alasan mengapa 15 Januari, hari wafatnya Arnold Janssen menjadi tanggal yang perlu diperingati. (*)
Robert Bala, Eks-SVD







