Tentu, janji-janji kampanye mesti ditatap serius bagai sebuah ‘film dokumenter mini paket Deo Do’ yang beralur taburan penuh harapan. Ende tentu berharap sekiranya Tim Sukses Deo Do, segera sigap ‘menangkap kembali’ segala janji kampanye. Semua janji itu telah dilayangkan selama hari-hari jumpa massa. Maksudnya sederhana. Agar janji-janji yang telah dilayangkan itu tak terbang melayang-layang dan ‘akhirnya jatuh di hutan.’
Ende yakin, misalnya, seperti yakinnya Pak Tote saat melamar Pak Domi sebagai pasangan, bahwa Pak Domi bukan ‘orang berwajah baru di jalur birokrasi Pemda Ende.’ Ada harapan tebal bahwa Birokrasi Ende dalam personil ASN-nya segera dioptimalisasi. Dalam bahasa kenabian Yohanes padang gurun bahwa semua yang ‘lekuk-lekuk akan diratakan, yang berlembah bakal ditimbun, yang bergunung-berbukit akan dibikin rata, yang penuh liku-likunya bakal harus diluruskan’ (Lukas 3:5).
Ende tak ragu
Tentu, Ende tak ragu bahwa Pak Tote dan Pak Domi bakal jeli untuk bagaimana caranya menahkodai Ende demi Visi Ende Baru itu dalam Misi: Usung semangat Pancasila, Ende berdaya saing dalam prasasti iman dan budaya yang kaya.
Ende lagi menanti terapan nyata bahwa kualitas sumber daya manusia meningkat, produkvitas masyarakat pun meningkat, nyatanya supremasi hukum dan good governance, konekvitas antar wilayah, pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan serta kedaulatan pangan.
Demi Ende Sare-Lio Pawe, memang dibutuhkan narasi tajam yang visioner dan misioner. Dan memang itulah keharusan orientatif pembangunan (daerah). Tak bisa tidak! Bagaimana pun, rumusan visi-misi ini tentu diharamkan sekiranya hanya jadi ‘lips service beraroma hedonistik verbalic,’ sebatas nikmatnya kata-kata di bibir saja! Apalagi jika sekiranya nantinya visi-misi itu “hilang semua ditelan dusta.” Tentu tak diharapkan!







