Ende berharap kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati (2025-2029) ini bakal didukung oleh mitra (kerja) pemerintah dari jalur legislatif. Iya, setidak-tidaknya Partai Demokrat, PDIP, PPP, Partai Garuda dan Partai Ummat tetaplah ‘setia mengusung Pemerintah.’ Bagaimana pun, suara kritisi yang cermat dan tulus dari pelbagai pihak mesti jadi sumbangan yang mendasar dan berarti. Kritik yang mendasar itu tentu tak diharamkan.
Ende Baru – Tetap Jala Lama?
Tapi, mari kita kembali ‘suasana kontemplasi Deo Do di Bita Beach itu.’ Bila tak keliru, ada suara Pak Tote Badeoda bahwa ia dan Pak Domi adalah ‘orang baru’ yang tak terkait dengan kisah-kisah lama sebelumnya di Ende. Begitu sekiranya substansi isi bicuk koaranya, di kurang lebih 6 bulan silam. Pak Tote tegaskan, keduanya “Tidak terlibat dalam persoalan-persoalan lama.” Keduanya akan membawa Ende ke ‘pola pikir dan pola tindak-sikap yang baru…’
Nah, patut ditanya apa itu persoalan-persoalan lama?’ Kita sekali lagi berhalusi ‘Demi pelayaran menggapai Ende dalam keberhasilan menangkap ikan,’ tidakkah Deo Do lagi berpikir serius bagaimana harus perbaiki ‘jala ikan pembangunan Ende yang rusak, sobek sana sobek sini di kisah-kisah lama itu?’
Publik Ende tak yakin Pak Tote (yang tamatan Hukum UI) tak ‘berminat serius’ semisal pada cap bernada peyoratif bahwa “Penegakan hukum di Ende terburuk di Ende.” Itu yang disinyalir oleh Petrus Selestinus, Koordinator TPDI & Pergerakan Advokat Nusantara/Perekat Nusantara.
Visi-Misi Ende Baru dengan menjahit kembali ‘Jala lama dan sobek’ bukan perkara gampangan! Apa mungkin Deo Do harus membuang saja ‘jala ikan lama itu’ dengan ‘memulainya dengan jalan ikan yang baru saja?’







