Oleh P. Kons Beo, SVD
Di Grup E malam tadi memang semua harus berakhir. Kalkulasi matematik pertandingan akhirnya tiba pada kepastian. Jerman dan Costa Rika mesti cukup sampai di sini. Spanyol di tempat kedua. Dan si Samurai Biru, Jepang, bertakhta di puncak. Satu fase telah ditapaki.
Jerman memang harus pulang awal? Satu pertanyaan penuh heran. Tentu banyak jawab di baliknya. Intinya, ada yang aneh untuk semuanya. Seperti ‘hancurkan tradisi paten.’ Bahwa Jerman segera angkat koper. Langsung sesudah babak penyisian grup. Satu ‘dogma sepakbola’ mencair.
Tim Panzer disikat Jepang di pertandingan awal. Berakhir seri melawan Spanyol, dan berjaya akhirnya melabrak Costa Rica. Dan mesti ‘tamat di Piala Dunia Qatar’ dengan selisih produk gol kurang dibanding Spanyol. Iya, itulah pertandingan. Hadir sebagai salah satu tim unggulan. Namun mesti menerima kenyataan.
Kini, sepertinya tak ada lagi tim yang ‘difavoritkan’ apalagi sampai ‘harus dipastikan.’ Entah untuk satu kemenangan pun untuk satu kekalahan. Tampaknya kedua tim yang berlaga di lapangan miliki talenta masing-masing 50 persen. Entah mau dikembangkan selama pertandingan? Atau menjadi lengah dan akhirnya dirampok tim lawan?
Lepas dulu suara-suara mulai berdesis sana-sini. Menyasar kembali keberlangsungan Piala Dunia di Qatar. Iya, selalu ada celah untuk dicari pembenaran dan salahnya. Seolah-olah tim yang dianggap ‘berkelas’ alami kekalahan, kesalahannya ditembakkan pada tanya: ‘Level mafia’ seperti apa yang bisa ‘loloskan Qatar’ jadi Tuan Rumah?’







