Opini dan berbagai tafsiran tentu bisa dilitania sepanjang-panjangnya. Namun, yang pasti Piala Dunia Qatar 2022 ini pelan-pelan segera berakhir di duel di fase grupnya. Akan selangkah lagi menuju laga maut untuk ‘atau berbuah atau bergugur bunga.’
Tetapi, tidakkah kita sepatutnya menoropong satu timnas yang berlaga dengan segala dinamikanya yang terjadi? Tak ada sedikitkah pesan laga, pesan stadion, pesan suporter yang mesti ditangkap dari keriuhan satu pertandingan? Mungkin ini terkadang terkesan subyektif, bombastis, dipaksa-paksa, serta sekian hiperbolik untuk ‘lebarkan satu kepastian hasil dari satu pertandingan.’
Teringat lagi satu komentar seru, “Kalo sudah kalah, ya kalah sudah kau di situ! Kau tidak perlu omong banyak lagi.” Padahalnya, bisa terjadi: ada yang kalah penuh sportif serta sudah lewati satu perjuangan walau tak berhasil; tetapi ada yang menang namun sekian sarat ‘adegan tak sportifnya.’
Jepang telak kanfaskan Jerman di laga perdana; ia keok dibantai Costa Rica; namun bangkit lagi untuk menghajar Spanyol. Berhasil, gagal, dan kembali berhasil itulah ‘sepakbola kehidupan kita yang nyata.’ Lihat saja Jerman, yang tersungkur, lalu bangkit lagi mengasa harapan, dan pada titiknya berakhir menang. Dan berani terima kenyataan untuk ‘out.’ Dan itulah ‘sepakbola kehidupan yang membiaskan rangkaian harapan untuk sekian banyak pertandingan hingga kapan pun, di bumi yang berputar.’
Tangkaplah dari perjalanan Kosta Rika yang terkapar di tangan Spanyol dengan 7 gol. Tanpa balas. Namun, masih tetap mengasa harapan saat berhadapan dengan Jepang; dan akhirnya mesti kandas di tangan Jerman.







