Di titian panjang riwayat politiknya, Felix memaknai politik bukan terutama sebagai pertaruhan kepentingan yang sifatnya pragmatis sebagaimana lazim dalam praksis politik sekarang. Bagi Felix, politik itu bukan semata ajang bergulat dan bertarung merebut kekuasaan dan dengan kekuasaan itu melipatgandakan keuntungan dan kepentingan pribadi dan atau golongan. Bagi Felix politik itu juga bukan sekadar panggung menempatkan diri di zona nyaman. Sebaliknya bagi Felix, politik itu arena membumikan gagasan, menyatakan pikiran, membahasakan harapan, dan menggolkan cita-cita demi kepentingan masyarakat banyak.
Dengan demikian bagi Felix, politik itu vocation, panggilan. Panggilan memperjuangkan bonum commune, mengejar kebaikan bersama. Panggilan mengejawantahkan visi dan misi partai yang tak lain untuk kesejahteraan masyarakat. Menjiwai untuk kemudian memperjuangkan panggilan itu menjadi spirit dasar Felix terjun ke dunia politik. Yang dicarinya adalah pengabdian, dedikasi, penyerahan diri. Yang dicarinya adalah point, bukan koin. Nilai, bukan uang.
Tegasnya, dengan keputusan dan pilihannya terjun di dan terlibat penuh dan aktif demikian lama di politik, Felix ingin menerjemahkan politik dari ortodoksi menjadi ortopraksis. Atas upayanya seperti ini, kita patut memberi apresiasi untuk putra Ngada ini.
Tepat di hari jadinya yang ke-80 tahun, Felix menghembuskan nafas terakhirnya. Politisi lintas zaman itu telah tiba di ujung batas ziarah panjangnya. Raganya sudah berkalang tanah. Jiwanya sudah kembali ke Sang Pengasal. Yang tinggal adalah spiritnya. Warisan berharganya adalah totalitas dan bakti di jalan panggilan, jalan politik.







