Oleh Tony Kleden
Untuk yang satu ini saya boleh tepuk dada dan bangga. Mengapa nian? Sebagai wartawan, saya berinteraksi berturut-turut dengan enam Gubernur NTT terakhir. Dengan dr. Hendrik Fernandez (Gubernur NTT 1988-1993), Herman Musakabe (1993-1998), Piet A Tallo (1998-2008), Frans Lebu Raya (2008-2018), Viktor Bungtilu Laiskodat (2018-2023) dan terakhir dengan Emanuel Melkiades Laka Lena (gubernur sekarang).
Saya haqqul yakin tidak banyak wartawan punya kesempatan berharga seperti ini. Dan, mesti diakui, meraih kesempatan seperti ini merupakan kepuasan batin tak terkira bagi seorang wartawan. Sama seperti ketika berita dan atau tulisannya dibaca dan dibicarakan banyak orang.
Selain puas, juga bangga. Bangga karena kemudahan berinteraksi dengan para pejabat publik seperti ini sekaligus menegaskan peran penting para wartawan. Di tengah gempuran perangkat telekomunikasi yang melumpuhkan dan membunuh kerja-kerja manual, masih ada secercah harapan dari pena para wartawan yang berurusan dan bertanggung jawab dengan kata (sabda). Yang masih setia mentransformasi fakta dan fenomena menjadi kata, berita dan tulisan. Yang masih mau memilih jalan tidak menjanjikan ini. Yang masih setia menjadi pemulung kata.
Jika WS Rendra, si Burung Merak itu, menyebut kaum intelektual sebagai resi yang berumah di angin, bolehlah kita menyebut para wartawan sebagai resi yang berumah di jalanan. Dalam bahasa Erich Froom, memilih menjadi wartawan itu tidak sekadar to have, tetapi to be. Menjadikan wartawan sebagai modus vivendi. Sebagai panggilan hidupnya.






