Ketika anda membaca tulisan sekenanya ini, Gubernur Melki Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma barusan menjejakkan kaki di Kupang usai dilantik Presiden Prabowo Subianto, Kamis (20/2/2025) lalu. Mungkin juga Pesta Rakyat di halaman Rumah Jabatan Gubernur NTT sedang berlangsung.
Pengalaman bersama Melki Laka Lena dalam kapasitasnya sebagai gubernur, masih di titik nol. Tetapi dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dan Ketua DPD I Golkar NTT, anak muda kelahiran 10 Desember 1976 ini bisa diharap banyak. Kerja-kerjanya sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI untuk NTT luar biasa.
Melki sangat paham seperti apa kondisi NTT hari ini. Bersama Johni Asadoma, dia juga paham agenda besar Pemerintahan Prabowo dengan penghematan anggaran besar-besaran saat ini. Dari sisi anggaran, NTT hari ini sedang tidak baik-baik. Jika memilih aman dan nyaman, Melki tentu memilih di DPR RI. Dia tidak ingin maju bertarung di arena Pilgub. Meminjam kata-katanya dalam sebuah rapat di DPD I Golkar NTT, “Saya tidak mau menjadi Gubernur NTT hanya untuk menambah CV (curriculum vitae/daftar riwayat hidup).”
Sudah dua pekan duet Melki-Johni menakhodai NTT. Tonggak baru sudah dipancang. Ketika memutuskan terjun di politik, Melki sudah menghitung langkah. Panggung politik sudah membentuknya menjadi seorang politisi handal. Tetapi ketika kekuasaan sudah direbutnya, Melki pasti sangat sadar bahwa dia bukan lagi politisi semata, tetapi sekaligus juga seorang negarawan.
Kita mesti meyakini Melki bisa tampil sebagai politisi sekaligus negarawan. Laki-laki Ende ini tentu juga tahu bahwa A politician is a statesmen who places the nation at his service. A statesmen is a politician who places himself at the service of his nation.





