Hati Manusia

JOHN NABEN1

Oleh Pater John Naben, SVD

Ada dua kekuatan yang menentukan sikap, tindakan dan perbuatan manusia, yakni otak (pikiran) dan hati. Otak mengolah apa yang dibuat atau yang dilihat. Dalam hal ini, otak atau pikiran bisa mengolah sesuatu secara salah atau sengaja salah. Berbeda dengan hati. Hati tidak. Hati tidak bisa salah. Kalau kita melakukan sesuatu yang salah, hati tidak merasa aman. Dan sebaliknya, kalau kita berbuat sesuatu yang baik, hati kita merasa tenang. Sebab itu disebut hati nurani. Karena hati menentukan perbuatan manusia, boleh atau tidak boleh. Kita manusia bisa berbuat salah, karena tidak mengikuti dorongan hati kita.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dalam bahasa Indonesia, kita bisa menentukan sifat seseorang dengan kata hati. Misalnya: baik hati, murah hati, lembut hati, sedih hati, tawar hati, lurus hati, makan hati, rendah hati dan tegar hati. Hati mengungkapkan sifat baik atau buruknya perilaku seseorang.
Kita manusia tidak atau belum mempunyai hati Yesus. Dalam kisah Injil kita membaca atau mendengar bahwa hati Yesus selalu tergerak oleh belas kasihan kepada orang yang menderita, yang membutuhkan pertolongan (bdk. Mat. 9:36; Mat. 14:14; Mat. 15:32; Mrk. 1:41; Mrk. 5:19; Mrk. 6:36; Mrk. 9:22; Luk. 7:13). Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan, karena memang Yesus itu rendah hati, murah hati dan lembut hati.
Supaya kita bisa menjadi seperti Yesus, kita perlu mengikuti hati nurani kita. Ikuti kata hati kita. Turuti apa yang dikatakan oleh hati kita. Dengarkan bisikan hati yang terdalam. Yesus berkata; ‘Dapatkah orang buta menuntun orang buta’ (Luk. 6:39). Tanpa dibimbing, dituntun oleh suara hati, kita laksana orang buta, yang juga sedang menuntun orang buta. Orang buta membutuhkan seorang yang tidak buta untuk menjadi penunjuk jalan. Supaya kita berjalan di jalan yang benar, kita membutuhkan penunjuk jalan, yakni hati kita.

Pos terkait