Dalam Injil Lukas 6:43, kita mendengar kata-kata Yesus berikut ini: ‘Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik’. Suara hati itu, ibarat pohon yang baik. Pohon yang baik, menghasilkan buah yang baik pula. Kalau kita mengikuti suara hati, maka kita menghasilkan buah-buah kebajikan.
Oleh adanya suara hati, manusia sebenarnya selalu merasa terdorong untuk berbuat yang baik. Dia mengatur sikap hidup manusia; apa yang boleh dibuat dan apa yang tidak boleh dibuat.
Suara hati akan menentukan sikap. Kalau kita melakukan sesuatu yang baik, maka ada rasa senang, puas, bahagia. Sebaliknya, kita akan ditegur oleh suara hati kita, jika kita melalukan suatu kesalahan karena kita tidak nyaman, tidak tenang dan merasa bersalah.
Tetapi, perasaan hati kita juga bisa menjadi tumpul, kalau kita berulang kali melakukan kesalahan, kebiasaan yang buruk, pelanggaran yang terus menerus sebab akan muncul satu perasaan bersalah yang semu. Atau orang tidak merasa lagi, bahwa apa yang dibuatnya itu salah. Misalnya; seorang Novis, yang sembunyikan HP, merupakan satu pelanggaran yang dibuat dengan sengaja, itu melumpuhkan bisikan suara hati. Atau Novis yang tidak ikut doa Rosario bersama teman-teman lain, pada setiap rabu sore, lalu melalukan sesuatu yang lain; misalnya menerima tamu, pada pukul 17.45 WITA; juga merupakan sebuah pelanggaran yang disengajakan. Itu berarti dia menumpulkan suara hatinya. Atau melawan suara hatinya atau tidak mendengar bisikan suara hatinya.







