Hati Manusia

JOHN NABEN1

Kalau kita perhatikan dalam hidup sehari-hari, manusia itu mudah mencari kesalahan orang lain. Kebaikan orang mungkin dibicarakan pada saat tertentu saja. Tetapi tentang kesalahan seseorang, akan diceritakan dari orang yang satu kepada orang yang lain. Bahkan akan menjadi cerita turun temurun untuk anak cucunya juga.

Pertentangan, perbantahan, percecokan yang terjadi biasanya muncul dari kebiasaan menceritakan keburukan atau kesalahan orang lain. Bahkan ada orang yang menjadi actor dalam cerita-cerita yang begini. Satu hari kalau tidak menceritakan keburukan orang lain, dia merasa hidupnya tidak berarti. Kalau belum menyebut nama orang lain kepada orang lain, khususnya hal yang buruk, dia merasa dunia sudah mau kiamat. Sehari saja, tidak menjelekkan orang, ada yang kurang atau ada sesuatu yang tidak beres baginya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kitab Putera Sirakh, memberikan peringatan ini: Keburukan manusia tinggal di dalam bicaranya, dan ujian terhadap manusia terletak dalam bicaranya (Lih. Sirakh 27:4-7). Manusia yang tidak benar hidupnya, tidak tahu menjaga bicaranya dan akan mudah melihat kesalahan orang lain, sementara ia sendiri tidak mampu melihat kesalahannya. Sebaliknya, orang yang hatinya baik, dia selalu melihat hal yang baik dalam diri orang lain. Siapa yang hatinya jahat, dia hanya akan melihat hal yang buruk dalam diri orang lain.

Dari mana sumber hati yang jahat itu? Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Dari mana buah yang baik itu? Dari keluarga. Keluarga yang baik, menghasilkan anak yang baik pula. Maka hendaklah kita pupuk hati yang baik sejak dari keluarga. Untuk menjaga kualitas yang baik, ingatlah apa yang disampaikan oleh St. Paulus; ‘Saudara-saudaraku terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan’ (Lih. 1 Kor. 15:58).
Melakukan pekerjaan Tuhan adalah hidup dan melakukan yang baik. Pekerjaan Tuhan ialah melakukan perbuatan baik. Semakin terlatih untuk melakukan pekerjaan yang baik, sifat yang buruk dalam diri kita juga akan semakin berkurang. Hati yang penuh kebaikan akan melatih mulut untuk berbicara yang baik. Kalau kita bicara yang baik, maka apa yang kita sampaikan akan menyenangkan orang yang mendengarnya.

Pos terkait