Hati Manusia

JOHN NABEN1

Para ahli moral mengatakan bahwa orang yang membuat satu kesalahan, untuk pertama kalinya; ia akan merasa sungguh sangat bersalah. Tetapi kalau kesalahan itu dibuat terus menerus, rasa bersalahnya akan hilang bahkan lenyap. Itu juga menandakan bahwa suara hatinya sudah tumpul.

Suara hati yang sudah tumpul ini, perlu disadarkan, diaktifkan, dibangkitkan kembali, bukan saja oleh diri sendiri melainkan oleh orang lain di luar yang bersangkutan. Tetapi kalau orang yang suara hatinya sudah benar-benar tumpul, maka orang itu bisa diibaratkan dengan ada batu di kepala atau ada batu di hati. Sebab, kalau ada batu di kepala, orang akan kehilangan akal sehatnya. Dengan demikian, batu yang di kepala akan turun ke hati. Lalu, apa yang mau diharapkan dari orang yang ada batu di kepala, ada batu di hati? Ingatlah! Kalau berbuat baik, suara hati bergembira. Sebaliknya, kalau kita berbuat salah, maka hati sangat gelisah.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kesalahan karena tidak mengikuti suara hati akan merambat. ‘Mengapa engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimana engkau dapat mengeluarkan selumbar dari mata orang lain, pada hal balok dalam mata sendiri tidak diketahui’ (Cf. Luk. 6:41-42). Orang Kuwu – Manggarai sering bilang Neka Sina Gintang, Toe Kira Girat, yang artinya jangan terlalu menonjolkan kesalahan orang lain, sedangkan tidak sadar akan kesalahan sendiri. Ini mengungkapkan bahwa hidup tanpa suara hati, akan menyeret kita dari satu kesalahan ke kesalahan yang lain.

Pos terkait