Kembali ke enam Gubernur NTT. Interaksi dengan para pemimpin NTT itu terjadi baik melalui wawancara, mengikuti kunjungan kerja, maupun ngobrol bareng sambil seruput kopi. Dengan Gubernur Hendrik Fernandez, saya mewawancarainya Januari 1993 saat lagi bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (waktu), Sulasikin Mupratomo, menunggu pesawat di bawah naungan pohon di Bandara Hasan Aroeboesman, Ende.
Kok di bawah pohon? Ya, saat itu Flores barusan luluh lantak dihantam gempa tektonik 12 Desember 1992. Ruang tunggu Bandara Ende rusak berat. Hasil wawancara itu diterbitkan Surat Kabar Mingguan Dian tempat saya bekerja.
Pertemuan kedua dengan Dokter Endi, sapaan akrab Hendrik Fernandez, terjadi Desember 1996 (lupa waktu persisnya) di rumahnya di kawasan Walikota Kupang. Wawancara dilakukan untuk liputan terkait HUT NTT di Harian Pos Kupang. Pertemuan terakhir tahun 2007 juga di rumahnya di Walikota Kupang untuk kebutuhan penerbitan buku “15 Tahun Pos Kupang Suara Nusa Tenggara Timur”.

Dari tiga pertemuan itu, ada kesan kuat dari sosok ini yang tertangkap. Hendrik Fernandez adalah seorang humanis yang berkarakter kuat. Dia teguh pada prinsip, tapi juga santun dalam kata-katanya.
Dengan Gubernur Herman Musakabe, saya ingat betul ketika ‘mencegat’-nya di pintu kiri Gereja St. Yosep Naikoten Kupang usai mengikuti misa nikah massal. Belum setahun jadi reporter di Pos Kupang, naluri mengejar berita kuat mendesak. Saya berdiri di pintu mobil DH 1, menghalanginya masuk ke mobil sebelum menjawab pertanyaan.





