Pengalaman Bersama 6 Gubernur NTT, Sekadar Catatan Ringan

tony kleden1
Tony Kleden

“Gimana de…” tanya  Musakabe dalam nada  halus penuh kebapakan sambil menepuk bahu saya.  Satu dua pertanyaan pun dijawabnya untuk jadi bahan berita.

Wah, Musakabe terlalu halus. Kepada rekan wartawan dari media lain, saya menyeletuk, “Musakabe salah sekolah. Mestinya dia di seminari dan jadi pastor, bukan jadi tentara. Pangkat Mayor  Jenderal tapi sangat halus, sangat humanis dan selalu siap melayani wartawan.”

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Perhatiannya terhadap para wartawan juga luar biasa. Pada masanya, banyak wartawan mendapat rumah di Perumahan Lopo Indah Permai (BTN) Kolhua.  Tentu tidak gratis. Tetapi untuk para wartawan di Kupang yang isi dompetnya agak  kempes, uang muka rumah itu dibebaskan. Dan jadilah, Blok V dan W di BTN Kolhua adalah bloknya wartawan.

Dengan Piet Tallo sangat sering bertemu. Baik di lapangan, di ruang kerjamya, juga kalau ‘si rambut putih’ itu berkunjung ke Pos Kupang.  Satu pengalaman ini tak mungkin terlupakan. Di ruang kerjanya, cuma kami berdua.

“Bagaimana Ton?” tanya Piet Tallo penuh kebapakan.

“Bapak adalah kepala daerah di NTT yang paling lama di puncak kekuasaan. Sepuluh tahun jadi Bupati TTS, lima tahun jadi Wakil Gubernur NTT dan 10 tahun jadi Gubernur NTT. Selama 25 tahun bapak di kekuasaan. Apa refleksi bapak?” tanya saya.

Piet Tallo terdiam sesaat. Butir-butir air mata terlihat di kedua sudut matanya.

“Yaaa, tidak ada yang kebetulan. Saya percaya itu. Ini anugerah yang saya dapat. Karena itu saya bersyukur sekali atas kebaikan Tuhan buat saya,” jawabnya.

Kalau dengan Gubernur Frans Lebu Raya, pengalaman kebersamaan sangat luar biasa. Kebersamaan sudah terjalin saat laki-laki Adonara ini masih memimpin Yayasan Masyarakat Sejahtera (Yasmara) Kupang. Masih sama-sama jalan kaki. Masih kere.

Pos terkait