“Tunggu sebentar, saya masih gunting rambut,” jawabnya.
Tidak lama dia pulang. Saya protes. “Ama, lain kali kalau mau gunting rambut, panggil tukang gunting ke rumah. Jangan Ama yang pergi ke tempat gunting rambut,” saya menyergahnya.
“Mengapa?” Lebu Raya tanya balik.
“Kalau terjadi apa-apa, judul beritanya sudah ada, “Mantan Gubernur NTT celaka,” jawab saya serius. Seperti biasa, Lebu Raya hanya senyum.
Lain lagi dengan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat. Terus terang, saya tidak pernah mewawancarainya. Interaksi dengan dia juga hanya terjadi ketika mengikuti kunjungan kerjanya ke daratan Flores dan Sumba. Kami tidak saling kenal secara pribadi.
Tetapi dari pengalaman mengikuti kunjungannya ke daerah, saya mengerti dan mengenal seperti apa sosok ini. Viktor, yang tenar dengan sapaan VBL, adalah sosok yang tegas. Memilki watak tegas dan keras, laki-laki dari Semau ini disebut-sebut cocok untuk pimpin NTT.
Viktor memimpin NTT satu periode saja. Dengan kurang dan lebihnya. Ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, pemerintah melakukan refocusing anggaran. Alhasil, Viktor tidak mudah mengeksekusi program-program kerjanya.
Satu yang saya tangkap dari sosok ini. Viktor seorang yang visioner. Sangat ingin agar NTT lebih lekas maju. Dia banyak tahu. Banyak baca dan belajar. Pengetahuannya beragam. Saya terheran-heran ketika berbicara di salah satu kampung di Manggarai, Viktor menyebut kata ‘epistemologi’. Istilah ini lebih akrab dengan mereka yang belajar dan membaca literatur filsafat. Ketika dia menyebut kata kini, saya tersentak kaget. Wah, dia baca dan mengunyah buku-buku filsafat juga rupanya.





