Idola Versus Admiratio

Kons beo5

Seorang teman asal Spanyol pernah ‘rasa tak aman dan terganggu.’ Itu karena saya hanya bilang, “Sebentar kita nonton bersama saja…” Itu pas ada laga Spanyol vs Maroko. Secepatnya ia tanggapi,  “Saya mau tidur malam ini dengan tenang. Kau tidak usah  ganggu yang tidak perlu…” Dia memang serius tanggapi.

Sungguh cerdas ia ambil ‘jalan tengah.’ Tak usah nonton bareng. Jika memang Spanyol kalah, dia sudah punya firasat nantinya ada senyum ceriah milik saya dan teman-teman lain. Ini yang hanya untuk bikin tak nyaman saja.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Piala Dunia selalu berdaya magis. Punya daya tarik penuh pesona. Fanatisme dipertebal. Jiwa patriotik dikobarkan. Isu-isu sensitif di lini-lini kehidupan digelontorkan. Tetapi, tentang timnas atau pemain pujaan? Ia sudah terpaku mati pada forma dan isi idola. Itu semisal timnas Brasil atau pemain seperti Ronaldo, yang sudah ditakhtakan pada singgasana idola itu.

Idola, di kisah kemenangannya, pasti membangkitkan euforia tak terbendung. Tetapi lihat saja jika sebaliknya kalah? Atau apalagi gagal untuk laga selanjutnya? Kebesaran hati untuk terima kenyataan bukanlah perkara gampangan. Dan di situ, sebenarnya kekalahan bisa pastikan aura ‘jiwa yang rapuh dan semangat yang terpecah.’

Datang ke Piala Dunia dengan arus ‘kultus-idolik’ memang tak disalahkan. Sebab toh ada  spirit nasionalis yang jadi alasannya. Masih kubayangkan teman-teman saya seperti Simon, Titus dan Endi di Argentina sana, misalnya saja, sudah pada gregetan akan Messi dkk. Apalagi ada coretan dari Simon, “іViva Argentina! Hidup Argentina Calon juara dunia Qatar 2022.

Pos terkait